MAHAKAMA – Sejak dulu, buah kelapa terkenal memiliki beragam fungsi dan manfaat bagi kehidupan masyarakat. Namun, kini lambaian pohon kelapa di pesisir tidak lagi menyejukkan hati para pedagang karena harganya yang semakin tidak terjangkau.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), harga kelapa di tingkat produsen secara nasional tumbuh rata-rata 5,74 persen per tahun sejak satu dekade terakhir. Jika pada tahun 2015 harga hanya Rp3,65 ribu per butir, maka pada tahun 2024 angka tersebut melonjak menjadi Rp6,06 ribu per butir.
Sementara itu, lonjakan harga di Kalimantan Timur jauh melampaui rata-rata nasional akibat ketergantungan pasokan dari luar daerah. Puncaknya pada pertengahan tahun 2025, harga kelapa di Samarinda meroket hingga menyentuh angka Rp15 ribu hingga Rp20 ribu per butir.
Fenomena ini terjadi karena Kalimantan Timur masih sangat bergantung pada pasokan luar daerah. Selain itu, tingginya volume ekspor buah kelapa membuat stok untuk kebutuhan dalam negeri menjadi sangat terbatas. Akibatnya, kenaikan harga ini memicu efek domino yang memukul keberlangsungan usaha kecil.
Dampak Nyata bagi Pelaku Usaha Kecil

Kelompok Diskusi dan Kajian Opini Publik (Kedai Kopi) melakukan survei terhadap 130 pelaku UMKM pada akhir tahun 2025. Responden survei ini mencakup pemilik rumah makan padang, warteg, penjual santan, hingga usaha katering. Hasilnya, mayoritas pengusaha kecil kini sedang berada dalam posisi terjepit.
Sebanyak 74,6 persen publik merasakan kenaikan biaya modal untuk pembelian kelapa dan produk olahannya. Peningkatan harga tersebut memaksa para pelaku UMKM mengeluarkan biaya lebih besar hanya untuk tetap menjalankan usaha. Selain modal, sekitar 40 persen responden juga mengeluhkan kenaikan biaya operasional akibat sulitnya mencari pasokan.
Kenaikan biaya modal dan operasional ini lantas memaksa 25,4 persen pelaku usaha menaikkan harga jual produk mereka.
Sementara itu, 23,8 persen responden memilih untuk mengurangi kuantitas pembelian kelapa demi menjaga keseimbangan kas. Sebagian pengusaha lain bahkan mulai mengganti kelapa parut dengan bahan alternatif untuk menekan pengeluaran.
Di sisi lain, terdapat 16,9 persen pelaku usaha yang memilih menerima keuntungan lebih kecil. Langkah pahit ini mereka ambil agar pelanggan tetap setia dan tidak beralih ke tempat lain.
Fakta ini menunjukkan bahwa kenaikan harga kelapa telah mengubah perilaku ekonomi pengusaha secara drastis.
Kenaikan Harga dan Tantangan Logistik
Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian menyoroti bahwa ketergantungan pasokan menjadi faktor utama ketidakstabilan harga. Kalimantan Timur yang belum mandiri secara produksi kelapa harus menanggung biaya logistik antar-daerah yang sangat mahal. Oleh karena itu, harga kelapa di pasar lokal tidak lagi mencerminkan harga petani, melainkan akumulasi biaya angkut dan rantai distribusi yang panjang.
Selain masalah distribusi, fenomena ekonomi ini dipicu oleh perebutan stok antara pasar domestik dan pasar global. Ketika permintaan ekspor meningkat, pasokan lokal menyusut dan harga otomatis melompat tinggi. Tantangan ini menjadi peringatan bagi penguatan rantai pasok dalam negeri agar bahan pokok tetap terjangkau. (*)
Penulis: Dwi Lena Irawati
Editor: Amin