MAHAKAMA – Bayang-bayang piring nasi yang kosong mulai menghantui benak para ibu rumah tangga menjelang pergantian tahun ini. Ketakutan terhadap krisis ketahanan pangan pada awal 2026 menjadi kekhawatiran nyata di tengah ketidakpastian kondisi alam.
Ketahanan pangan Indonesia kini kembali menjadi sorotan utama masyarakat karena meningkatnya kebutuhan beras sebagai komoditas pokok. Dinamika cuaca yang tidak menentu melahirkan tantangan besar bagi sektor pertanian di berbagai daerah. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan adanya penurunan produksi padi nasional yang berlanjut hingga akhir tahun 2025.
Fluktuasi Produksi Padi Sepanjang Tahun 2025

Pertama-tama, produksi padi pada Oktober 2025 tercatat sebesar 4,72 juta ton gabah kering giling. Angka tersebut merosot sekitar 20,67 persen jika dibandingkan dengan bulan sebelumnya yang mencapai 5,95 juta ton. Meskipun demikian, angka ini masih lebih tinggi dari pencapaian Oktober 2024 yang hanya sebesar 4,56 juta ton.
Sepanjang tahun 2025, grafik produksi padi nasional terlihat sangat fluktuatif akibat pengaruh cuaca dan kondisi lahan. Produksi padi memulai awal tahun dengan angka 2,20 juta ton kemudian naik menjadi 3,86 juta ton pada Februari. Lonjakan besar terjadi pada Maret dan April dengan masing-masing memproduksi lebih dari 9 juta ton gabah kering giling.
Penurunan Tajam di Penghujung Tahun
Namun demikian, angka produksi kembali melandai menjadi 5,05 juta ton pada Mei dan terus turun menjadi 4,01 juta ton pada Juni. Produksi sempat membaik pada periode Juli hingga September dengan kisaran 4,80 juta ton hingga 5,95 juta ton. Sayangnya, tren positif ini tidak bertahan lama karena volume produksi mulai menunjukkan tren penurunan signifikan di akhir tahun.
Badan Pusat Statistik memproyeksikan angka produksi terus merosot menjadi 3,37 juta ton pada November 2025. Penurunan paling tajam diperkirakan terjadi pada Desember dengan jumlah produksi hanya sebesar 2,47 juta ton gabah kering giling. Kondisi ini menjadi peringatan bagi pemerintah untuk segera menjaga ketersediaan stok beras nasional di gudang bulog.
Jika ditinjau berdasarkan wilayahnya, maka provinsi di Jawa menjadi sentra produksi padi nasional. Jawa Timur berada di puncak dengan produksi mencapai 10,53 juta ton gabah kering giling, diikuti Jawa Barat dengan 10,25 juta ton gabah kering giling dan Jawa Tengah dengan 9,4 juta ton gabah kering giling. Secara keseluruhan, produksi padi diperkirakan mencapai 60,37 juta ton hingga akhir tahun 2025.
Dampak Bencana terhadap Panen Padi
Penurunan produksi padi nasional ini terjadi karena tingginya potensi gagal panen akibat bencana hidrometeorologi. Cuaca ekstrem berupa banjir dan tanah longsor mengancam lahan pertanian produktif terutama di wilayah Pulau Sumatera. Oleh karena itu, luas panen padi juga mengalami penyusutan drastis dari 860 ribu hektare menjadi hanya 440 ribu hektare pada Desember.
Bencana banjir yang menggenangi lahan sawah merusak kualitas gabah dan mengganggu rantai distribusi pangan ke masyarakat. Di samping itu, penurunan luas panen ini berdampak langsung pada kenaikan harga beras di pasar-pasar tradisional. Tantangan besar kini menanti pemerintah untuk memastikan stabilitas harga tetap terjaga hingga awal tahun 2026 mendatang. (*)
Penulis: Dwi Lena Irawati
Editor: Amin