By admin
22.12.25

Tren “Single Era” Mewabah, Kalimantan Timur Masuk 10 Besar Provinsi dengan Pemuda Jomblo Terbanyak

Ilustrasi anak muda yang memilih untuk jomblo

MAHAKAMA — Media sosial TikTok belakangan ini diramaikan dengan tren konten bertajuk “Enjoying My Single Era”.

Tren ini memperlihatkan para anak muda yang memamerkan kemandirian, hobi, dan kebahagiaan mereka meski tanpa pasangan.

Menariknya, tren ini sejalan dengan data terbaru dari Badan Pusat Statistik (BPS) yang menempatkan Kalimantan Timur (Kaltim) masuk ke dalam jajaran 10 provinsi dengan persentase pemuda jomblo tertinggi di Indonesia.

Berdasarkan data BPS, persentase pemuda (usia 16-30 tahun) yang berstatus belum kawin di Kaltim mencapai 75,66%.

Angka ini menempatkan Kaltim di posisi yang cukup signifikan secara nasional, sementara posisi pertama diduduki oleh Provinsi Papua dengan angka 83,96%.

Mengapa Milenial Memilih Lajang?

Fenomena ini tidak muncul tanpa alasan. Dikutip dari Marriage Rates Decline: Why Millennials Are Marrying Less dari StatRanker, terdapat beberapa faktor utama yang melatarbelakangi pergeseran gaya hidup ini.

  • Prioritas Finansial dan Kemandirian: Banyak milenial menunda hubungan serius karena tekanan finansial. Biaya hidup yang tinggi, termasuk biaya tempat tinggal dan biaya pernikahan, membuat mereka lebih fokus pada stabilitas ekonomi terlebih dahulu sebelum mempertimbangkan hubungan jangka panjang. Survei menunjukkan bahwa kekhawatiran finansial menjadi salah satu faktor terbesar mengapa milenial tidak buru-buru menikah atau berpasangan.

  • Karir dan Pendidikan Lebih Diperhatikan: Generasi milenial cenderung mengejar tujuan karier atau pendidikan tinggi lebih dulu sebelum menjalin hubungan serius. Dalam survei lain, banyak responden mengaku sedang fokus pada pengembangan diri dan pencapaian karier, sehingga hubungan romantis bukan prioritas utama saat ini.

  • Tingginya Harapan terhadap Pasangan: Milenial dikenal memiliki harapan yang tinggi terhadap pasangan ideal. Banyak dari mereka memilih untuk menunggu orang yang tepat daripada menjalin hubungan yang kurang sesuai. Hal ini meningkatkan angka jomblo karena pencarian pasangan yang memenuhi kriteria jadi lebih panjang dan selektif. 

  • Perubahan Budaya dan Nilai Sosial: Perubahan nilai sosial juga menjadi faktor penting. Pernikahan tidak lagi dipandang sebagai keharusan, tetapi lebih sebagai pilihan hidup. Banyak milenial merasa nyaman hidup sendiri atau dalam hubungan non-tradisional tanpa terikat status pernikahan. 

  • Kesadaran Emosional dan Trauma Hubungan: Beberapa milenial memilih tetap lajang karena pengalaman masa lalu atau ketakutan akan hubungan serius. Tantangan emosional seperti takut berkomitmen atau pengalaman pahit dari hubungan sebelumnya membuat mereka enggan terikat dalam hubungan baru.

  • Teknologi dan Pola Kencan Modern: Aplikasi kencan yang menawarkan banyak pilihan sering kali membuat pencarian pasangan terasa tidak efektif atau membingungkan. Banyak orang merasa sulit membangun koneksi yang mendalam di era digital, yang dapat memperlambat proses menemukan pasangan serius. 

  • Tidak Semua Milenial Tidak Ingin Hubungan: Perlu dicatat bahwa tidak semua milenial memilih jomblo karena alasan negatif. Sebagian melihat hidup lajang sebagai kesempatan untuk fokus pada kebebasan pribadi, eksplorasi, dan kesejahteraan mental, yang mereka anggap sama pentingnya dengan hubungan romantis.

Suara Pemuda Bumi Etam

Realita statistik ini tercermin dari pengakuan beberapa pemuda di Kaltim. Rian (26), seorang karyawan swasta, mengaku sedang menikmati masa kesendiriannya.

“Jujur, saya lagi menikmati banget masa-masa sendiri. Fokus saya sekarang cuma kerja dan nabung. Apalagi di Samarinda biaya hidup nggak murah, jadi mending matengin diri sendiri dulu sebelum ajak orang lain hidup bareng,” ujarnya.

Nada serupa disampaikan oleh Dita (22), seorang mahasiswi di Balikpapan. Ia merasa tren media sosial membantunya melihat status lajang dari sisi positif.

“Kalau melihat tren ‘Single Era’ di TikTok, saya merasa tervalidasi. Ternyata nggak punya pacar itu bukan berarti nggak laku, tapi kita memang punya kendali penuh atas kebahagiaan kita. Saya lagi fokus kuliah, jadi pasangan bukan prioritas utama saat ini,” kata Dita.

Sementara itu, Fahmi (28), seorang freelancer di Kutai Kartanegara, lebih menekankan pada kualitas hubungan.

“Zaman sekarang cari yang sefrekuensi itu susah. Daripada memaksakan hubungan yang toxic cuma karena takut dibilang jomblo, mending saya pakai waktunya buat hobi dan eksplor hal positif lainnya. Nikah itu sekali seumur hidup, jadi nggak perlu buru-buru,” tutur Fahmi

Fenomena banyaknya pemuda yang belum kawin di Kaltim ini mencerminkan transisi sosial di mana pernikahan bukan lagi menjadi satu-satunya indikator kesuksesan di usia muda.

Bagi sebagian besar pemuda Bumi Etam, menjadi lajang adalah pilihan sadar untuk investasi diri yang lebih baik di masa depan. (*)

Penulis: Desy Alvionita
Editor: Amin

Trending