MAHAKAMA – Gemerlap lampu kota dan deru mesin pabrik bergantung sepenuhnya pada aliran energi yang tidak terlihat. Listrik kini menjadi jantung kehidupan yang menguasai hajat hidup orang banyak di seluruh pelosok negeri.
Mengingat perannya yang sangat vital, negara wajib menguasai cabang produksi penting ini sesuai amanat Pasal 33 ayat 2 UUD 1945. Oleh karena itu, pemerintah mengelola listrik melalui perusahaan negara demi menjamin pemerataan bagi seluruh rakyat sekaligus mencegah monopoli swasta yang hanya mencari keuntungan semata.
Upaya pengelolaan negara tersebut membuahkan hasil signifikan dalam peta persaingan regional. Berdasarkan data dari Seasia.stat per 13 Desember 2025, Indonesia kini resmi memimpin panggung energi di Asia Tenggara melalui kekuatan PT PLN (Persero).
Daftar Raksasa Perusahaan Listrik di Asia Tenggara

Indonesia menempatkan PLN sebagai perusahaan listrik terbesar di ASEAN dengan kapasitas mencapai 46,8 Gigawatt. Gigawatt (GW) digunakan sebagai satuan untuk mengukur kapasitas daya listrik dalam skala yang sangat besar. Satu Gigawatt setara dengan satu miliar watt atau sejuta kilowatt.
Posisi kedua ditempati oleh Vietnam Electricity (EVN) dari Vietnam dengan kapasitas sekitar 30,0 Gigawatt. Selanjutnya, Malaysia berada di posisi ketiga melalui Tenaga Nasional Berhad yang memiliki kapasitas 21,0 Gigawatt.
Thailand menyusul di peringkat keempat dan kelima melalui EGAT dengan 16,3 Gigawatt serta perusahaan swasta Gulf Energy Development sebesar 15,1 Gigawatt.
Peringkat berikutnya diisi oleh Ratch Group dari Thailand sebesar 9,6 Gigawatt dan Malakoff Corporation dari Malaysia sebesar 7,0 Gigawatt.
Filipina menyumbang dua perusahaan swasta yaitu San Miguel Global Power dengan 6,1 Gigawatt dan AboitizPower sebesar 5,9 Gigawatt.
Terakhir, Sarawak Energy dari Malaysia menutup daftar sepuluh besar dengan kapasitas 5,7 Gigawatt.
Perbandingan Efisiensi Listrik Berdasarkan Jumlah Penduduk

Meskipun PLN memiliki kapasitas total terbesar, tantangan nyata muncul saat membandingkannya dengan jumlah populasi. Berdasarkan data populasi Worldometer 2025, efisiensi distribusi listrik setiap negara terlihat sangat berbeda.
Faktanya, dengan jumlah penduduk yang besar, kapasitas listrik Indonesia menjadi relatif tipis. Setiap satu juta penduduk hanya ditopang sekitar 165 megawatt listrik, jauh di bawah negara tetangga di ASEAN.
Kondisi ini jauh berbeda jika kita melihat Malaysia dan Thailand yang tampak lebih padat dalam hal pembangkit listrik. Malaysia memimpin efisiensi dengan rasio 751 Megawatt per satu juta penduduk.
Thailand menyusul di posisi kedua dengan rasio 572 Megawatt per satu juta penduduk. Angka ini menunjukkan bahwa infrastruktur energi di kedua negara tersebut jauh lebih merata bagi warganya.
Sementara itu, Vietnam juga menunjukkan performa yang cukup efisien dibandingkan Indonesia. Meski kapasitas total Vietnam berada di bawah Indonesia, mereka memiliki rasio 297 Megawatt per satu juta penduduk.
Filipina berada di posisi terbawah dalam daftar ini dengan hanya memiliki rasio 104 Megawatt per satu juta penduduk.
Ruang Besar untuk Perluasan Jaringan Listrik Nasional
Oleh karena itu, Indonesia sebenarnya masih memiliki pekerjaan rumah yang sangat besar dalam sektor energi. Walaupun secara total unggul, kapasitas listrik per penduduk masih jauh tertinggal dari Malaysia dan Thailand. Hal ini menandakan bahwa Indonesia perlu memperluas jaringan pembangkit untuk memenuhi permintaan domestik yang terus tumbuh.
Pertumbuhan kapasitas listrik Vietnam yang mulai mengejar populasi harus menjadi pengingat bagi pemerintah. Tantangan utama saat ini adalah memastikan listrik tidak hanya besar di atas kertas tetapi juga sampai ke rumah warga di daerah terpencil. Dengan demikian, kedaulatan energi yang merata bagi seluruh rakyat dapat benar-benar terwujud. (*)
Penulis: Dwi Lena Irawati
Editor: Amin