MAHAKAMA – Udara malam di Samarinda Utara berubah tegang saat api tiba-tiba menjulang di Jalan Eri Suparjan. Kobaran itu melahap sebuah warung makan dan langsung mengingatkan warga betapa rapuhnya kawasan padat pemukiman ketika listrik masih menyala di tengah kepanikan.
Kebakaran menimpa bangunan dua lantai yang difungsikan sebagai tempat tinggal dan warung makan, Senin (8/12/2025) sekitar pukul 20.30 Wita. Lokasinya berada di RT 12 Nomor 06, Kelurahan Sempaja Selatan, tak jauh dari pintu keluar TVRI.
Dilansir Media Kaltim (8/12/2025), aliran listrik PLN belum diputus saat api membesar sehingga membahayakan warga. Tiga armada dikerahkan ke lokasi untuk memadamkan api di lantai atas bangunan.
Petugas sempat terhambat kabel PLN yang putus dan hampir menyentuh mereka. Total 15 personel dari Posko 2 dan Posko 3 diterjunkan untuk mengendalikan situasi.
Tidak ada korban jiwa dalam kejadian ini. Dugaan sementara mengarah pada korsleting listrik. Kasus ini menambah panjang daftar kebakaran yang terus berulang di Samarinda setiap tahun.
Samarinda Ulu Terbanyak, Rumah dan Listrik Paling Rentan


Data kebakaran yang dicatat Disdamkar Kota Samarinda per 8 Desember 2025 menunjukkan tingginya frekuensi musibah ini sepanjang Januari hingga November 2025.
Secara kewilayahan, kebakaran paling banyak terjadi di Kecamatan Samarinda Ulu. Wilayah ini tercatat memiliki 34 kejadian selama periode Januari–November 2025.
Posisi kedua ditempati Samarinda Utara dengan 27 kejadian. Sementara itu, Samarinda Kota mencatat 20 kejadian, dan Sungai Kunjang sebanyak 17 kejadian. Kecamatan dengan kejadian paling sedikit adalah Samarinda Ilir dengan 6 kasus.
Selain sebaran wilayah, data juga menyoroti objek yang terbakar. Objek terbakar paling banyak adalah rumah penduduk, mencapai 57 kasus.
Di samping itu, korsleting atau sistem kelistrikan juga menyumbang jumlah tinggi, yakni 50 kasus. Jumlah ini jauh lebih tinggi dibandingkan objek lain.
Perdagangan tercatat 16 kasus. Sementara kendaraan menyumbang 8 kasus. Gudang, industri, lahan, dan kebocoran gas masing-masing berada di angka 7 kasus.
Korsleting Listrik Jadi PR Serius Kota
Tingginya angka kebakaran di Samarinda Ulu menjadi penanda serius. Kecamatan ini dikenal memiliki kepadatan permukiman yang rapat. Kondisi ini secara otomatis membuat risiko penjalaran api sangat tinggi saat terjadi musibah.
Fakta bahwa objek rumah dan kasus listrik menjadi dua kategori terbanyak yang ditangani sejalan dengan dugaan bahwa korsleting listrik sering menjadi pemicu utama. Oleh karena itu, mayoritas kebakaran yang terjadi di Samarinda berasal dari faktor teknis dan kelalaian yang berhubungan dengan instalasi rumah tangga.
Data ini menunjukkan bahwa sosialisasi dan pemeriksaan rutin instalasi listrik di permukiman padat perlu ditingkatkan. Masalah ini harus menjadi perhatian utama pemerintah kota dan PLN. Jika tidak, insiden yang mengancam nyawa petugas seperti putusnya kabel PLN dalam pemadaman di Samarinda Utara akan terus berulang. (*)
Penulis: Dwi Lena Irawati
Editor: Amin