MAHAKAMA – Aktivitas belajar di pesantren selama ini identik dengan suasana religius dan kedisiplinan. Lembaga pendidikan berbasis keagamaan ini memegang peran penting dalam pembinaan karakter dan pendidikan nonformal. Namun, data Kementerian Agama (Kemenag) menunjukkan tren yang tidak menggembirakan: jumlah santri nasional terus menurun dalam tiga tahun terakhir.
Tren Penurunan Drastis Santri Nasional

Data Pengelolaan Pendidikan Pesantren Kemenag mencatat jumlah santri meningkat pada tahun ajaran 2022/2023 dari 4 juta pada semester ganjil menjadi 4,8 juta pada semester genap. Kenaikan itu menjadi titik tertinggi sebelum tren merosot.
Memasuki tahun ajaran 2023/2024, jumlah santri turun signifikan. Semester ganjil mencatat 3,1 juta santri, kemudian naik sedikit menjadi 3,3 juta pada semester genap. Penurunan berlanjut pada 2024/2025 dengan 3,2 juta santri pada semester ganjil. Semester genap kembali turun hingga 1,6 juta santri. Tren tersebut makin jelas pada tahun ajaran 2025/2026 semester ganjil ketika jumlah santri tercatat hanya 1,3 juta. Angka ini menjadi yang terendah dalam empat tahun terakhir.
Kemenag menyebut dinamika demografi, mobilitas pendidikan, serta preferensi masyarakat terhadap sekolah formal sebagai faktor yang memengaruhi perkembangan pesantren. Selain itu, sebagian pesantren disebut masih perlu meningkatkan adaptasi terhadap sistem pembelajaran digital agar tetap kompetitif.
Kalimantan Timur: Potret Kapasitas Pesantren yang Masih Terbatas
Jika tren penurunan santri terlihat di tingkat nasional, Kalimantan Timur menghadapi tantangan yang berbeda. Data Kemenag 2025 menunjukkan provinsi ini memiliki 248 pesantren, dengan sebagian besar menjalankan pendidikan kitab kuning, yaitu pengajaran berbasis literatur klasik Islam tanpa harakat. Selain itu terdapat pesantren yang mengkombinasikan dengan pendidikan formal.
Total santri di Kalimantan Timur berjumlah 9,8 ribu orang, terdiri dari 5,1 ribu santri laki-laki dan 4,6 ribu santri perempuan. Jumlah tersebut menempatkan Kalimantan Timur di posisi ke-18 secara nasional. Pada saat yang sama, Jawa Barat menjadi provinsi dengan santri terbanyak, mencapai sekitar 376 ribu orang.
Selain jumlah santri yang terbatas, kapasitas pendukung juga menjadi catatan. Kalimantan Timur hanya memiliki 2 ribu ustadz dan 21 ruang kelas yang tercatat. Angka ini yang mengindikasikan beban lembaga kecil dan menengah cukup berat dalam menyediakan layanan pendidikan yang ideal.
Tantangan Internal dan Pergeseran Minat

Dilansir Nu.or.id (11/8/2025), penurunan penerimaan santri pada 2025 dipicu sejumlah faktor yang saling bertaut. Orang tua kini lebih selektif dan mempertimbangkan fasilitas belajar, kualitas kurikulum, kemampuan adaptasi digital, serta prospek masa depan anak. Figur kiai tetap dihormati, tetapi bukan lagi penentu tunggal dalam memilih pesantren.
Kasus kekerasan atau pelecehan di sebagian pesantren ikut membentuk persepsi publik yang lebih kritis. Di tengah arus informasi cepat, satu insiden saja dapat menyebar luas dan menurunkan rasa aman orang tua. Tekanan ini semakin berat karena pesantren juga harus bersaing dengan sekolah formal dan lembaga modern yang menawarkan fasilitas lebih lengkap.
Gabungan faktor itu membuat sebagian keluarga menunda atau mengubah rencana memondokkan anak. Kondisi ini menjadi sinyal kuat bahwa pesantren harus segera memperbaiki mutu internal, memodernisasi pembelajaran dan memperkuat transparansi tata kelola. Langkah-langkah itu penting untuk menjaga kepercayaan masyarakat yang kini semakin selektif. (*)
Penulis: Dwi Lena Irawati
Editor: Amin