MAHAKAMA – Wali Kota Jakarta Pusat, Dhany Sukma, hampir menjadi korban penipuan digital yang memanfaatkan fitur Share Screen WhatsApp. Dilansir Kompas (20/9/2025), ia menyadari ada yang tidak beres dan segera mengabaikan instruksi penipu yang menyamar sebagai petugas kecamatan dan staf pendataan. Kasus ini menjadi peringatan keras di tengah meningkatnya serangan digital di Indonesia.
Data SAFEnet menunjukkan, Indonesia mencatat 299 kasus serangan digital pada Triwulan III 2025 (Juli–September), naik 130 insiden dibanding triwulan II dan 219 kasus lebih banyak dibanding periode sama tahun 2024.
Kasus serangan digital pada bulan Juli tercatat 70 insiden. Nilai ini meningkat tajam menjadi 119 insiden pada Agustus dan sedikit menurun menjadi 110 insiden pada September. Total insiden sepanjang 2025 kini mencapai 603 kasus, menjadikan Triwulan III periode terburuk sepanjang tahun. Dari 299 insiden, 213 berasal dari aduan, 35 dari pemantauan dan 51 dari laporan Tim Advokasi untuk Demokrasi (TAUD).
Instagram dan WhatsApp Platform Paling Rentan

Platform milik Meta menjadi sasaran utama dalam periode ini. Dua platform, Instagram dan WhatsApp, menjadi platform yang paling sering terkena serangan digital pada Triwulan III 2025. Instagram berada pada urutan pertama dengan total 85 insiden, disusul oleh WhatsApp dengan total 80 insiden. Total insiden di kedua platform tersebut mendominasi separuh kasus yang ada.
Selain itu, serangan digital pun dapat terjadi melalui situs web dengan jumlah 19 insiden. Selisih tipis dari serangan di situs web, serangan digital yang terjadi di TikTok dan Facebook masing-masing berjumlah 16.
Nomor telepon seluler pun rentan diserang secara digital, dengan laporan sebanyak 14 insiden. Pada Twitter/X terdapat 8 insiden dan Email mencatatkan 7 insiden. Kemudian, terdapat 4 insiden pada platform lainnya, disusul dengan Telegram (4 insiden), Threads (3 insiden), YouTube (2 insiden), dan LinkedIn (1 insiden) dengan jumlah kasus paling sedikit.
Modus Share Screen dan Social Engineering
Tingginya kasus di WhatsApp dan Instagram didorong oleh modus social engineering, yakni penipuan yang mengandalkan manipulasi psikologis korban. Menurut Event Cloud Computer (24/9/2025), penipu memanfaatkan fitur Share Screen/Bagikan Layar dengan cara:
- Menyamar sebagai pihak resmi – petugas pemerintah, bank, atau e-commerce, menekan korban dengan kewajiban administrasi atau perbaikan data.
- Menginstruksikan Share Screen – korban diarahkan menyalakan fitur Bagikan Layar sehingga penipu dapat melihat semua informasi secara real-time.
- Mengambil alih akun dan data – kode OTP atau informasi sensitif diperoleh untuk membobol akun, menguras saldo, menipu kontak lain, atau mengakses identitas korban.
Kasus Wali Kota Dhany Sukma memperlihatkan risiko nyata dari modus ini. Penipu mencoba menuntunnya membuka Share Screen untuk menyelesaikan KTP digital online, tetapi upaya itu berhasil digagalkan karena kesadaran dan kewaspadaan korban.
Mengapa Meta Jadi Target Utama
Ada dua faktor utama:
- Popularitas dan ketergantungan pengguna – WhatsApp dan Instagram adalah platform komunikasi dan sosial paling populer di Indonesia, sehingga basis target penipu sangat besar.
- Efektivitas social engineering – Platform komunikasi personal mempermudah penipu menyamar sebagai teman, kerabat, atau petugas resmi, membuat korban lebih mudah percaya dan membocorkan data.
Kasus ini menjadi peringatan bahwa keamanan digital bukan hanya urusan teknis, melainkan bagian penting dari perlindungan sipil. Meningkatnya insiden menuntut edukasi lebih masif tentang modus rekayasa sosial untuk semua pengguna gawai. (*)
Penulis: Dwi Lena Irawati
Editor: Amin