By admin
20.11.25

Amerika–Australia Kuasai Tahta, ITB Tembus 100 Besar Kampus Tambang Dunia

Colorado School of Mines, Amerika Serikat/ mines.edu

MAHAKAMA – Di bawah hamparan luas Indonesia tersimpan kekayaan mineral yang tak ternilai. Kekayaan ini menjadi tulang punggung perekonomian nasional. Untuk mengelola potensi besar ini secara berkelanjutan, masa depan bangsa tergantung pada kualitas sumber daya manusianya . Khususnya, para mahasiswa dan insinyur tambang terbaik yang akan memimpin industri ini.

Salah satu pertimbangan terpenting dalam memilih program studi di jenjang pendidikan tinggi adalah reputasi universitas. Reputasi mencerminkan kualitas pengajaran dan kemitraan global. Hal ini juga menunjukkan pengalaman belajar mahasiswa serta kesempatan untuk melakukan penelitian.

QS World University Rankings 2025 melakukan pemeringkatan kampus dunia berdasarkan beberapa faktor. Faktor tersebut meliputi kualitas penelitian, kemampuan bersaing di pasar tenaga kerja, pengalaman belajar, keterlibatan global, serta keberlanjutan. Skor maksimum yang diberikan adalah 100. Berikut adalah sepuluh kampus terbaik dunia di bidang Teknik Tambang Mineral versi QS World University Rankings.

Dominasi Amerika, Australia dan Kanada di Peringkat Atas

Colorado School of Mines dari Amerika Serikat berhasil mempertahankan posisi puncak. Kampus ini mencatat skor sempurna 100,0 dalam indikator Akademik. Kampus ini meraih skor keseluruhan 96,7. Colorado School of Mines menjadi tolok ukur kualitas global.

Tiga dari sepuluh kampus terbaik dunia berasal dari Australia. The University of New South Wales (UNSW Sydney) berada di peringkat kedua dengan skor keseluruhan 84,5. UNSW naik satu peringkat dari tahun sebelumnya. Kemudian, Curtin University berada di urutan kelima dengan skor keseluruhan 82,3.

The University of Queensland berada di peringkat keenam dengan skor keseluruhan 81,6. Konsentrasi kampus dari Australia ini menegaskan peran besar negara tersebut dalam industri pertambangan global.

McGill University dari Kanada menempati posisi ketiga dengan skor keseluruhan 83,6. Kampus ini naik dua peringkat dari tahun 2024. Kanada juga menempatkan University of British Columbia di peringkat kesembilan dengan skor keseluruhan 79,4.

Menariknya, dua kampus dari Eropa dan Timur Tengah juga menembus daftar ini. Saint-Petersburg Mining University dari Federasi Rusia berada di posisi keempat dengan skor keseluruhan 83,0. Kampus ini mencatat skor akademik yang tinggi, yaitu 79,6.

Sementara itu, King Fahd University of Petroleum & Minerals dari Arab Saudi menempati peringkat ketujuh dengan skor keseluruhan 80,6. Kampus ini menunjukkan keunggulan riset energi dan mineral di Timur Tengah. Imperial College London dari Inggris masuk ke peringkat delapan dengan overall Score 80,5, menunjukkan bahwa kampus Eropa juga kompetitif.

Terakhir, Pennsylvania State University dari Amerika Serikat menutup daftar sepuluh besar dengan skor 78,8. Kampus ini naik tiga peringkat dari posisi ke-13 pada 2024. Kenaikan tersebut dipengaruhi oleh penguatan reputasi akademik serta kualitas lulusan yang dinilai positif oleh pasar kerja. Kedua indikator ini penting dalam penilaian QS World University Rankings. Pergeseran ini menegaskan ketatnya persaingan global dalam menghasilkan lulusan dan riset pertambangan terbaik

Institut Teknologi Bandung Berada di Jajaran Kampus Global

Meskipun belum masuk dalam sepuluh besar, Institut Teknologi Bandung (ITB) menunjukkan kualitas yang diakui dunia. ITB berada di kelompok peringkat 51-100 dunia untuk Teknik Tambang Mineral. ITB mencatat skor Akademik sebesar 49,7.

Pencapaian ini menempatkan ITB sejajar dengan Cairo University di Mesir dan Technical University of Munich di Jerman. Kehadiran ITB di daftar ini menjadi cerminan bahwa Indonesia, sebagai salah satu negara pertambangan besar, memiliki kualitas pendidikan teknik yang diakui secara internasional.

Persaingan Riset dan Reputasi Industri

Dominasi Amerika Serikat, Australia dan Kanada dalam daftar ini terlihat jelas. Ketiga negara tersebut memiliki cadangan mineral besar, teknologi pertambangan canggih, serta hubungan erat antara industri dan kampus. Sinergi ini menciptakan riset yang kuat, kurikulum yang relevan, dan lulusan yang langsung siap kerja.

Kenaikan peringkat sejumlah kampus menunjukkan semakin besarnya fokus pada riset keberlanjutan dan eksplorasi mineral kritis. Dalam konteks ini, posisi ITB di kelompok 51–100 memberi optimisme bagi Indonesia. 

ITB menjadi motor bagi pengembangan sektor pertambangan nasional. Namun, kampus ini masih perlu meningkatkan skor Akademik dan Riset agar dapat bersaing lebih dekat dengan kampus Asia seperti King Fahd University of Petroleum & Minerals di Arab Saudi.

Memilih jurusan Teknik Tambang Mineral berarti memasuki bidang yang berpengaruh besar terhadap ekonomi dan lingkungan. Karena itu, penguatan riset serta pendidikan pertambangan perlu terus dipacu agar insinyur Indonesia mampu memimpin eksplorasi sumber daya alam secara bertanggung jawab dan berkelanjutan. (*)

Penulis: Dwi Lena Irawati
Editor: Amin

Trending