MAHAKAMA – Banyak orang mencari hiburan cepat untuk melepas penat dan game jadi pilihan paling mudah. Kebiasaan sederhana ini membuat industri game berkembang pesat, terutama karena pemain kini bisa bermain di mana saja lewat ponsel, bukan hanya lewat komputer atau konsol.
Pertumbuhan jumlah pemain tersebut langsung berdampak pada besarnya perputaran uang di sektor ini. Boston Consulting Group memprediksi pendapatan industri gaming global akan mencapai US$232 miliar pada 2025, seiring makin kuatnya pasar game seluler.
Perkiraan itu selaras dengan temuan Newzoo. Lembaga riset ini mencatat bahwa pada Kuartal I 2025, perusahaan-perusahaan game meraup pendapatan besar hanya dari penjualan game, belum termasuk perangkat dan produk pendukung lainnya.
Peringkat 10 Perusahaan Game Paling Untung
Berdasarkan laporan Newzoo, dari sekian banyak perusahaan game di dunia, Tencent memimpin daftar dengan pendapatan US$9.666,4 juta atau sekitar Rp 156,6 triliun. Pendapatan raksasa Tiongkok ini sebagian besar ditopang oleh dominasi game mobile global mereka, seperti Honor of Kings dan PUBG Mobile.
Posisinya jauh di atas Microsoft yang meraih US$5.492,1 juta atau Rp 89 triliun. Pendapatan Microsoft sangat bergantung pada layanan Xbox Game Pass dan penjualan franchise seperti Call of Duty dan Minecraft.
Sony berada di urutan ketiga dengan US$5.241,3 juta atau Rp 84,9 triliun, mengandalkan penjualan hardware PlayStation 5 serta game eksklusif mereka.
Apple ada di peringkat keempat berkat dominasi pasar aplikasi, menghasilkan US$4.190,6 juta atau Rp 67,9 triliun. Pendapatan Apple ini murni berasal dari komisi Appstore atas pembelian dalam aplikasi dari ribuan game di platform mereka.
NetEase melengkapi lima besar dengan pendapatan US$3.229,3 juta atau Rp 52,3 triliun, ditopang oleh game mobile dan MMORPG yang populer di Asia.
Electronic Arts (EA) berada di posisi keenam dengan US$1.895 juta atau Rp 30,7 triliun. Angka ini didorong oleh kuatnya penjualan in-game content dari franchise olahraga tahunan, seperti EA Sports FC dan Madden NFL.
Google menempel ketat dengan US$1.861,6 juta atau Rp 30,1 triliun. Seperti Apple, pendapatannya berasal dari komisi Google Play Store untuk transaksi game di perangkat Android.
Take Two Interactive (T2) berada di posisi delapan dengan US$1.473,8 juta atau Rp 23,9 triliun, masih kuat berkat pendapatan berulang dari GTA Online dan franchise NBA 2K.
Century Huatong Group dari China menempati posisi sembilan dengan US$1.035,7 juta atau Rp 16,8 triliun, didukung portofolio game mobile yang kuat di pasar domestik.
Terakhir, Roblox menutup daftar sepuluh besar dengan US$ 1.035,2 juta atau Rp 16,8 triliun. Popularitas Roblox yang terus naik ikut mengerek pendapatannya, terutama dari pembelian mata uang virtual Robux yang digunakan di jutaan pengalaman yang dibuat pengguna.

Mengapa Penjualan Game Melejit?
Pertumbuhan pasar game seluler jadi faktor utama. Bermain di ponsel lebih mudah diakses, sehingga jutaan transaksi terjadi setiap hari. Apple dan Google mendapat porsi besar dari setiap pembelian dalam aplikasi.
Model Game as a Service (GaaS) juga membuat pendapatan perusahaan lebih stabil. Penjualan skin, battle pass, dan item digital jadi sumber pemasukan berulang tanpa perlu merilis game baru.
Kombinasi akses mudah dan model bisnis GaaS menjadikan Tencent, NetEase dan Roblox sebagai pemain paling dominan. Basis pengguna mereka luas dan aktif.
Perkembangan ini menunjukkan game sudah menjadi bagian penting budaya hiburan masa kini. Tantangannya, industri perlu memastikan inovasi berjalan tanpa mengorbankan kesehatan mental pemain.(*)
Penulis: Dwi Lena Irawati
Editor: Amin