MAHAKAMA — Masa transisi dari remaja sekolah menuju kedewasaan seringkali penuh gejolak. Perubahan fokus dari teman sebaya yang mulai mengejar tujuan masing-masing tak jarang memicu perasaan ‘tertinggal’ dan munculnya pertanyaan klasik, “Hidup kok gini-gini aja, ya?”.
Namun, bagi Dito, seorang pemuda yang baru menapaki usia dewasa, kegalauan tersebut perlahan teredam sejak ia menemukan sebuah kunci rahasia, yaitu Filsafat Stoikisme.
Awalnya, Dito mengakui dirinya alergi terhadap kata “filsafat” karena terbayang sesuatu yang abstrak dan rumit. Titik baliknya terjadi suatu malam saat ia asyik menggulir Threads dan menemukan sebuah utas tentang Stoikisme. Hingga kini, sudah 2 tahun ia menerapkan stoikisme dalam kehidupannya.
“Rasanya seperti menemukan jawaban dari berbagai problematika dalam diri selama ini,” ungkap Dito, yang kini ingin berbagi pencerahan bagi mereka yang rentan insecure dan overthinking.
Hidup Bahagia dengan Mengendalikan Pikiran
Secara singkat, stoikisme adalah sebuah aliran filsafat yang mengajarkan bagaimana menjaga pikiran dari emosi negatif dan melipat gandakan kebahagiaan dan rasa syukur. Dalam stoikisme kebahagiaan diartikan sebagai tidak adanya emosi negatif.
Stoikisme pertama kali diperkenalkan oleh Zeno dari Citium, seorang filsuf Yunani Kuno dari Siprus, yang mendirikan aliran ini di Athena sekitar tahun 300 SM dan kemudian terus berkembang hingga saat ini. Beberapa tokoh stoikisme yang terkenal adalah Seneca seorang pedagang, Epictetus seorang budak, dan Marcus Aurelius seorang kaisar.

Inti ajaran Stoikisme membagi segala hal dalam hidup menjadi dua lingkup. Pertama, lingkup internal yang dapat kita kendalikan, seperti pikiran, tindakan, usaha. Kedua, lingkup eksternal atau sesuatu yang tidak dapat kita kendalikan, meliputi pendapat orang lain, hasil akhir, keberuntungan.
Dalam pandangan Stoikisme, kesenangan yang bergantung pada hal di luar kendali diri adalah absurd, karena jika hal tersebut gagal didapatkan, yang tersisa hanyalah kekecewaan.
Kontrol Usaha, Lepaskan Hasil
Setelah memahami konsep Stoikisme, Dito mengubah fokusnya. Alih-alih berharap hasil tertentu, ia fokus pada proses dan usaha yang bisa ia kendalikan.
“Kalau ingin mendapat banyak uang, maka saya harus bekerja dengan giat, hidup sesuai kebutuhan, dan rajin menabung. Jika ingin naik jabatan, saya harus bersikap profesional dan meningkatkan kemampuan diri. Selebihnya adalah sesuatu yang berada di luar kendali,” jelasnya.
Selain fokus pada usaha, Stoikisme juga mengajarkan mengatur ekspektasi dan berpikir rasional. Berbeda dengan pesimis, hal ini agar kita dapat melipatgandakan rasa bahagia dan syukur.
Dengan kata lain, seorang Stoik terbiasa mengatur ekspektasi untuk mengurangi potensi kekecewaan dan memaksimalkan rasa syukur.
Stoikisme Sebagai Filter di Era Serba Cepat
Di era media sosial yang dipenuhi konten “Kiat-kiat sukses sebelum usia 25 tahun,” tekanan untuk membandingkan diri dan merasa tertinggal sangat tinggi.
Stoikisme hadir sebagai filter yang kuat. Bagi Dito, pencapaian orang lain adalah sesuatu yang berada di lingkup eksternal. Yang berada di lingkup internal kita adalah cara kita bersikap ketika melihat hal tersebut.
“Kalau cuma lihat pencapaian orang lain, yang ada cuma iri hati. Padahal, aku bisa fokus perbaiki diri supaya lebih baik,” ujarnya.
Dito mengutip salah satu tokoh Stoik, Epictetus, “It is not things that disturb us, but our opinion of them,” (Bukan hal-hal yang mengganggu kita, melainkan pendapat kita tentang hal-hal tersebut).
Kisah Dito menjadi pengingat bahwa di tengah hiruk pikuk dan tuntutan dunia modern, ketenangan sejati bisa didapatkan dari sebuah filosofi kuno Stoikisme, untuk fokus pada apa yang bisa kita kendalikan di luar distraksi, namun tidak membunuh ambisi. (*)
Penulis: Desy Alvionita
Editor: Amin