MAHAKAMA – Di balik setiap gerakan tari yang presisi dan kostum panggung yang memukau, konser mega bintang sekelas BLACKPINK menyimpan strategi yang jauh lebih ilmiah: pengaturan emosi berbasis psikologi musik.
Pendekatan ini terlihat jelas saat BLACKPINK mengguncang Gelora Bung Karno (GBK) pada 1 dan 2 November lalu dalam DEADLINE World Tour 2025. Susunan lagu mereka bukan sekadar daftar hit populer. Setlist itu berfungsi sebagai peta emosi yang mengatur energi ribuan audiens secara kolektif.
Dari Seni ke Sains: Arsitektur Emosi di Balik Setlist

Penelitian oleh Daniel Swarbrick dalam Frontiers in Psychology (2023) menunjukkan bahwa konser yang paling berkesan tidak hanya ditentukan oleh popularitas lagu. Faktor penentunya justru terletak pada bagaimana variasi tempo dan intensitas musik mengatur respons emosional penonton.
Fenomena ini dikenal sebagai arousal dynamics, yaitu pola naik-turun stimulasi yang menjaga tingkat keterlibatan tanpa menyebabkan kelelahan sensorik.
Berdasarkan setlist resmi konser BLACKPINK di GBK yang dihimpun dari Goodstat, serta analisis tempo dari SongBPM, pertunjukan dibuka dengan rata-rata tempo 128–136 BPM melalui lagu-lagu seperti Pink Venom, How You Like That, dan Kill This Love.
Pada fase ini, sistem otak penonton menerima stimulasi cepat. Respons tersebut memicu pelepasan dopamin, hormon yang menimbulkan rasa senang, antusias, dan dorongan untuk bergerak.
Tidak berhenti di sana, tim produksi menempatkan transisi menuju lagu-lagu mid-tempo seperti Stay (BPM 82) dan Lovesick Girls (BPM 104). Ini adalah fase low arousal di mana ritme menurun dan melodi lebih mendominasi.
Penurunan tempo ini bukan kebetulan. Musik dengan BPM di bawah atau mendekati 100 terbukti menurunkan aktivitas kortisol dan memicu pelepasan oksitosin. Hormon ini yang menumbuhkan rasa kedekatan dan kepercayaan.
Dalam konteks konser, fase ini berfungsi membangun koneksi emosional antara penonton dan artis. Fase ini juga menciptakan ruang empati yang memperpanjang engagement audiens.
Fase re-pump dopamine itu berlanjut hingga segmen encore. Istilah re-pump mengacu pada momen kebangkitan ulang energi setelah fase tenang. Dari fase tenang, Tempo musik kembali dipercepat untuk memicu lonjakan dopamin kedua pada penonton. Lagu seperti BOOMBAYAH (BPM 125) dan As If It’s Your Last (BPM 126) berfungsi sebagai puncak kedua dopamin, meninggalkan sensasi puas dan euforia. Secara kimiawi, fase ini serupa cliffhanger yang ditutup adegan manis dalam film.

Desain Psikologis dalam Industri Hiburan
Pendekatan ini memperlihatkan bagaimana konser modern kini digerakkan oleh data dan biologi penonton, bukan sekadar pencahayaan atau koreografi. Menurut laporan Global Concert Psychology Index 2023 yang menganalisis 150 konser internasional mencatat bahwa konser dengan kurva arousal seimbang mampu mempertahankan energi audiens hingga 78 persen lebih lama. Persentase ini lebih tinggi dibanding konser dengan tempo seragam (56 persen).
Bagi manajemen hiburan global seperti YG Entertainment, bernilai ekonomi tinggi. Dengan memahami kapan dopamin dan oksitosin bekerja, mereka bisa mengatur ritme pertunjukan dengan presisi. Penempatan iklan, transisi panggung, dan momen interaksi pun diatur agar efek emosionalnya maksimal.
Emosi Kolektif Sebagai Produk Baru
BLACKPINK bukan sekadar menjual musik, mereka mengonversi reaksi biologis menjadi pengalaman emosional yang terukur.
Saat ribuan BLINK mengangkat ponsel dan bernyanyi bersama di bawah sorotan lampu, yang sebenarnya terjadi adalah harmoni antara impuls saraf, tempo, dan desain psikologis.
Konser bukan lagi hanya hiburan, tapi bentuk paling modern dari pengendalian perasaan massal melalui musik. (*)
Penulis: Dwi Lena Irawati
Editor: Amin