By admin
03.11.25

Pilu Lusiana, Guru yang Harus Berutang Puluhan Juta untuk Memastikan Kehadirannya di Kelas

Pilu Lusiana, Guru yang Harus Berutang Puluhan Juta untuk Memastikan Kehadirannya di Kelas/Ilustrasi

MAHAKAMA– Media sosial belakangan ini diramaikan oleh sebuah kisah yang memantik keprihatinan sekaligus decak kagum. Bukan tentang sensasi, melainkan tentang dedikasi yang dibayar mahal, harfiah.

Lusiana Lembang, seorang guru yang telah mengabdi lebih dari dua dekade di Sekolah Dasar Negeri (SDN) 3 Mappak, Kabupaten Tana Toraja, Sulawesi Selatan, mendadak menjadi sorotan nasional. Perjuangannya melampaui batas-batas tugas mengajar biasa; ia terpaksa menanggung utang ongkos ojek hingga mencapai Rp10 juta demi memastikan kehadirannya di ruang kelas.

Perjalanan Antara Hidup dan Mati

Kecamatan Mappak dikenal sebagai salah satu daerah terpencil (3T) di ujung Kabupaten Tana Toraja. Untuk mencapai SDN 3 Mappak, Lusiana harus menempuh perjalanan sejauh 70 kilometer dari pusat kota Makale. Ini bukan perjalanan biasa. Jalur yang dilalui adalah jalan setapak yang curam, licin, dan rawan longsor, sehingga hanya bisa ditempuh menggunakan sepeda motor ojek khusus.

“Perjalanan ke sana itu seperti ‘antara hidup dan mati’,” ungkap Lusiana saat kisahnya mulai terungkap ke publik.

Setiap kali ia pulang dan kembali ke sekolah, ia harus mengeluarkan biaya yang sangat besar. Satu kali perjalanan pulang pergi saja bisa menelan biaya hingga Rp600 ribu. Jika diakumulasi dari beberapa kali perjalanannya keluar masuk kota Makale—misalnya untuk mengurus administrasi ke Dinas Pendidikan atau menghadiri acara wajib—biaya tersebut membengkak. Karena tidak selalu memiliki uang tunai, ia terpaksa berutang kepada tukang ojek yang loyal membawanya.

“Kadang harus dorong motor sambil pikul beras untuk bekal di sekolah selama sebulan. Pernah juga jatuh dari motor, hampir masuk jurang,” kenangnya.

Namun, demi anak didiknya, ia pantang menyerah.

Gaji dan Tunjangan yang Tersendat

Ironisnya, besarnya pengorbanan finansial Lusiana sejalan dengan masalah administrasi yang dihadapinya. Perjuangannya semakin berat karena hak-haknya sebagai pendidik sering kali terlambat dibayarkan.

Lusiana dan beberapa rekannya di SDN 3 Mappak diketahui sempat mengalami keterlambatan pembayaran tunjangan terpencil selama beberapa bulan. Bahkan, dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) yang digelar oleh Komisi I DPRD Tana Toraja, terungkap bahwa ada tunggakan tunjangan untuk tiga guru di sekolah tersebut yang totalnya mencapai puluhan juta rupiah.

Ketua Komisi I DPRD Tana Toraja, Medi Sura Matasak, yang turut menanggapi kisah ini, menegaskan bahwa hak guru seperti Lusiana harus segera dibayarkan.

“Itu hak Ibu sebagai tenaga pendidik. Jadi harus dibayar, karena apa yang beliau lakukan itu untuk mencerdaskan anak bangsa,” tegas Medi Sura Matasak dalam RDP tersebut, menyoroti lemahnya tata kelola di Dinas Pendidikan setempat.

Tanggapan Pakar dan Solusi yang Diusulkan

Kisah Lusiana ini sontak memicu kritik keras dari kalangan pengamat pendidikan dan pemerintah daerah. Mereka menilai, apa yang dialami Lusiana adalah bukti nyata kurangnya perhatian pemerintah daerah terhadap kesejahteraan guru yang bertugas di daerah terpencil.
Prof Arismunandar, Ketua Dewan Pendidikan Sulawesi Selatan, memberikan tanggapan keras mengenai persoalan ini.

“Sebaiknya pemerintah mempercepat pencairan tunjangan guru. Bagus meniru dosen yang tunjangannya dibayarkan setiap bulan,” ujar Prof Arismunandar.

Lebih lanjut, ia juga mengusulkan solusi konkret untuk memutus rantai utang transportasi yang membebani guru pelosok. Ia menyarankan agar pemerintah daerah mempertimbangkan penyediaan kendaraan dinas yang melekat di tiap sekolah pelosok.

“Pemerintah perlu juga memfasilitasi guru yang mengajar di pelosok dengan kendaraan dinas. Disediakan di sekolah sebagai kendaraan dinas, sehingga bisa digunakan bersama untuk mempermudah mobilitas,” usulnya, menekankan bahwa kendaraan tersebut harus menjadi aset sekolah, bukan perorangan.

Aksi Cepat dan Harapan Baru

Viralnya kisah Lusiana Lembang di media sosial ternyata membawa dampak positif yang cepat. Netizen dan berbagai pihak swasta bergerak melakukan aksi donasi untuk melunasi utang Lusiana.

Berkat gelombang simpati ini, utang Lusiana Lembang yang mencapai Rp10 juta akhirnya berhasil dilunasi. Kisah ini tidak hanya berakhir dengan lunasnya utang, tetapi juga menjadi desakan kuat bagi Pemerintah Kabupaten Tana Toraja untuk segera memperbaiki sistem penggajian dan penyaluran tunjangan bagi para pahlawan tanpa tanda jasa di wilayah 3T.

Lusiana, yang kini bisa kembali mengajar tanpa beban utang, tetap memegang teguh keyakinannya bahwa tugasnya adalah bentuk pengabdian suci untuk masa depan bangsa. Kisahnya menjadi pengingat bagi kita semua bahwa di balik hiruk pikuk berita, ada perjuangan mulia para guru yang berkorban jauh melampaui batas kewajiban, demi cita-cita Indonesia Cerdas.

Penulis : Redaksi

Trending