By admin
06.11.25

Jejak Genetik di Balik Kopi Kalimantan Timur

MAHAKAMA-Setiap pagi, aroma kopi menjadi penanda dimulainya hari di banyak rumah dan warung di Kalimantan Timur. Di balik kenikmatan itu, ada kerja keras petani yang bergantung pada satu hal penting: ukuran biji. Semakin besar bijinya, semakin tinggi pula harga jualnya. Namun, ukuran biji kopi di Kalimantan Timur masih belum seragam, membuat proses sortir lama dan mutu produk tidak stabil.

Penelitian Menguak Kode Biji Kopi

Tim peneliti dari Kalimantan Timur yang terdiri atas Fatimah, Urnemi, Apon Zaenal Mustopa, dan Hudaida Syahrumsyah mencoba mencari jawabannya melalui riset genetik berjudul “Aplikasi Marka Molekuler pada Buah dan Biji Kopi Asal Kalimantan Timur.”

Penelitian yang dilakukan pada tahun 2013 ini melibatkan 43 genotipe kopi yang dikumpulkan dari empat kabupaten penghasil utama di Kalimantan Timur, yaitu Kutai Kartanegara, Kutai Timur, Berau, dan Paser Utara. Tujuan utamanya adalah mengidentifikasi penanda genetik atau marka molekuler yang berperan dalam menentukan ukuran dan kualitas biji kopi.

Marka molekuler berfungsi mendeteksi gen pengendali sifat penting, seperti ukuran biji dan ketahanan tanaman. Dengan teknologi ini, proses seleksi bibit unggul dapat dilakukan sejak tahap awal tanpa perlu menunggu masa panen, sehingga pemuliaan kopi bisa berjalan lebih efisien.

Arabika dan Robusta, Dua Wajah Kopi Kalimantan Timur


Foto: Ilustrasi biji kopi Arabika dan Robusta (Pinterest)

Dari hasil pengujian, kopi asal Kalimantan Timur terbagi menjadi dua kelompok besar: Arabika dan Robusta. Jenis Arabika umumnya tumbuh di wilayah dataran tinggi seperti Kutai Timur, Berau, dan Paser Utara. Sementara itu, Robusta lebih banyak ditemukan di Kutai Kartanegara yang memiliki ketinggian lebih rendah dan kelembapan udara lebih tinggi.

Secara karakter, Arabika dikenal memiliki cita rasa lebih kompleks dengan tingkat keasaman yang lembut dan aroma lebih kuat. Sebaliknya, Robusta cenderung memiliki rasa lebih pahit dan kadar kafein lebih tinggi. Perbedaan ini membuat Arabika lebih sering digunakan untuk kopi premium, sementara Robusta banyak dipilih untuk campuran kopi instan atau espresso dengan rasa kuat.

Temuan pentingnya, dua kode genetik yaitu M480 dan M312 terbukti berhubungan dengan ukuran biji pada berbagai varietas kopi. Gen M480 berperan terhadap panjang dan lebar biji, sedangkan gen M312 memiliki pengaruh paling kuat terhadap ukuran keseluruhan. Gen M312 paling banyak ditemukan pada varietas Arabika, sehingga cenderung menghasilkan biji lebih besar. Temuan ini membuka peluang bagi pengembangan varietas unggul berbasis genetik lokal Kalimantan Timur.

Langkah Menuju Kopi Unggul Kalimantan Timur

Foto: Tanaman kopi (Pinterest)

Temuan ini menjadi terobosan bagi pengembangan kopi lokal. Melalui teknologi marka molekuler, pemilihan bibit unggul kini bisa dilakukan lebih cepat tanpa menunggu masa panen. 

Artinya, petani Kalimantan Timur dapat mempercepat perbaikan kualitas biji kopi sekaligus menjaga cita rasa khas daerahnya. Stabilitas ukuran biji juga memberi peluang peningkatan nilai jual di pasar premium.

Meski variasi genetik kopi Kalimantan Timur masih tergolong rendah, penelitian ini memberikan fondasi penting bagi pengembangan varietas unggulan daerah. Jika teknologi ini diterapkan lebih luas, Kalimantan Timur berpotensi menjadi pionir kopi berkualitas dengan biji besar, rasa khas, dan harga jual lebih tinggi.(*)

Penulis: Dwi Lena Irawati
Editor: Amin

Trending