By admin
15.11.25

Akar-Akar Harapan di Pesisir Bontang: saat Mangrove Jadi Masa Depan Ekowisata

MAHAKAMA-Di tengah geliat industri pesisir Kalimantan Timur, sebagian wilayah Bontang menyimpan wajah lain dari ekonomi biru: ekowisata mangrove. Jenis wisata ini menggabungkan rekreasi dengan konservasi. Tujuannya sederhana, menjaga alam sambil memberi manfaat ekonomi bagi warga sekitar.

Konsep ekowisata menekankan keberlanjutan. Pengunjung datang bukan sekadar untuk berswafoto, tetapi juga belajar tentang ekosistem dan cara melestarikannya. Karena itu, setiap kawasan yang ingin mengembangkan ekowisata perlu dinilai lebih dulu apakah ekosistemnya mampu menanggung aktivitas wisata tanpa rusak.

Salah satu kawasan yang tengah dikaji potensinya adalah Taman Mangrove Berbas Pantai di pesisir selatan Bontang. Kawasan ini menjadi ruang hijau alami di antara padatnya permukiman dan jalur industri. Akar-akar mangrove menjalar di air payau, menjadi rumah bagi burung, ikan kecil dan kepiting bakau. Potensi itulah yang mendorong tiga peneliti, Haris Ardian, Muhammad Yasser dan Widya Kusumaningrum (2023). Mereka melakukan penelitian berjudul Kesesuaian Ekowisata Mangrove pada Kawasan Taman Mangrove Berbasis Pantai di Bontang Kalimantan Timur.

Menakar Kelayakan Lewat Indeks Ekowisata

Foto: Destinasi wisata, Bontang Mangrove Park/foto-bontangpost.id

Untuk menilai potensi wisata, tim menggunakan Indeks Kesesuaian Wisata (IKW). Indeks ini mengukur sejauh mana kondisi lingkungan cocok untuk kegiatan wisata. Faktor yang dinilai mencakup jenis vegetasi, keanekaragaman hayati, kebersihan, hingga keamanan kawasan.

Dalam penilaian IKW, ada empat kategori kelayakan:

  • S1 (Sangat Sesuai): kondisi lingkungan sangat mendukung untuk kegiatan wisata tanpa banyak batasan.
  • S2 (Sesuai): kawasan layak untuk wisata, tetapi memerlukan pengelolaan hati-hati agar tetap lestari.
  • S3 (Sesuai Bersyarat): hanya bisa dimanfaatkan jika ada perbaikan ekosistem atau fasilitas.
  • N (Tidak Sesuai): kawasan sebaiknya tidak dikembangkan karena berisiko merusak lingkungan.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa IKW Taman Mangrove Berbas Pantai berada pada kategori Sesuai (S2), dengan nilai antara 60 persen hingga di bawah 80 persen. Artinya, taman ini cocok dijadikan destinasi ekowisata selama pengelolaannya dilakukan hati-hati dan berbasis konservasi.

Empat Jenis Mangrove dan Kapasitas Pengunjung

Peneliti menemukan empat jenis mangrove dari tiga famili, yaitu Rhizophora mucronata, Rhizophora apiculata, Sonneratia alba, dan Avicenia marina. Jenis Rhizophora mucronata mendominasi di tingkat semai dan pancang, sedangkan Sonneratia alba paling kuat di tingkat pohon. Komposisi ini menunjukkan ekosistem yang sehat dan stabil.

Foto:Rhizopora mucronata (Researchgate.net)

Dari sisi kapasitas, kawasan ini hanya mampu menampung sekitar 104 pengunjung per hari berdasarkan hasil Daya Dukung Kawasan (DDK). Angka ini penting untuk menjaga keseimbangan antara aktivitas wisata dan pelestarian. Jika pengunjung berlebihan, akar mangrove bisa rusak dan tanah pesisir menjadi tidak stabil.

Menumbuhkan Wisata yang Lestari

Nilai ekologis tinggi dan kelayakan wisata yang menjanjikan membuat Taman Mangrove Berbas Pantai berpotensi menjadi destinasi unggulan di Kalimantan Timur. Namun, pengembangannya perlu melibatkan masyarakat lokal sebagai penjaga kawasan. Edukasi tentang pentingnya mangrove bisa dikemas dalam jalur interpretasi atau pusat informasi yang menarik bagi wisatawan.

Dengan pendekatan yang tepat, taman ini bukan hanya menjadi tempat wisata, tapi juga ruang belajar tentang bagaimana manusia dan alam bisa hidup berdampingan. Di pesisir Bontang, akar-akar mangrove tidak sekadar menahan abrasi, tetapi juga menumbuhkan harapan akan pariwisata yang berkelanjutan.(*)

Penulis: Dwi Lena Irawati
Editor: Amin

Trending