MAHAKAMA — Beberapa waktu belakangan, media sosial ramai memperbincangkan isu fatherless. Fenomena ini menjadi salah satu isu sosial yang kian mengkhawatirkan di Indonesia.
Fatherless didefinisikan sebagai situasi di mana anak tidak mendapatkan pengasuhan, kehadiran, maupun peran ayah yang memadai, meskipun ayah secara fisik masih ada.
Kondisi ini membawa berbagai dampak serius bagi perkembangan anak, baik secara psikologis maupun emosional.
Fenomena ini tidak hanya terjadi ketika ayah secara fisik tidak hadir, tetapi juga mencakup kurang terlibatnya ayah secara emosional, meskipun masih tinggal bersama keluarga.
Berdasarkan data UNICEF pada 2021, sekitar 20,9 persen anak Indonesia kehilangan peran dan kehadiran ayah dalam keseharian mereka.
Sementara itu, laporan Badan Pusat Statistik (BPS) dalam periode yang sama mencatat hanya 37,17 persen anak usia 0-5 tahun yang diasuh secara penuh oleh kedua orang tua, baik ibu maupun ayah. Angka ini menunjukkan masih adanya kesenjangan signifikan dalam peran pengasuhan orang tua, khususnya peran ayah.

Lebih lanjut, data Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) BPS Maret 2024 mencatat sekitar 15,9 juta anak di Indonesia hidup tanpa kehadiran ayah.
Rinciannya, 4,4 juta anak tinggal di keluarga tanpa ayah, sementara 11,5 juta anak lainnya hidup bersama ayah yang bekerja lebih dari 60 jam per minggu, sehingga minim waktu berinteraksi dengan anak.
Kondisi terkini pun menunjukkan tren serupa. Berdasarkan hasil Pemutakhiran Pendataan Keluarga (PK) tahun 2025, didapati satu dari empat keluarga yang memiliki anak di Indonesia mengalami kondisi fatherless, yakni sebesar 25,8%.
Dampak Serius bagi Masa Depan Anak
Berdasarkan Jurnal Psikologi oleh Firda Nurmalasari dan kawan-kawan (2024) yang dipublikasi pada Pubmedia, ketiadaan sosok ayah dalam pengasuhan ini anak akan menimbulkan dampak negatif, di antaranya:
- Gangguan Psikologis: Anak yang tumbuh tanpa figur ayah cenderung merasa tidak aman dan kehilangan rasa percaya diri. Kehadiran ayah memberikan dukungan emosional yang membantu anak untuk tumbuh lebih stabil secara mental.
- Keseimbangan Sosial dan Emosional Terganggu: Sosok ayah penting dalam membentuk keterampilan sosial anak. Ayah yang aktif dalam pengasuhan membantu anak mengembangkan pola perilaku dan interaksi yang sehat.
- Pendidikan dan Kesejahteraan Ekonomi: Anak dari keluarga fatherless sering kali menghadapi kesulitan dalam pendidikan karena kurangnya bimbingan dan dukungan. Dalam jangka panjang, ini dapat memengaruhi kesejahteraan ekonomi mereka di masa depan.
Peran Penting Ayah Bagi Anak
Ayah memiliki peran yang sama pentingnya dengan ibu dalam tumbuh-kembang anak. Peran itu bisa ditunjukkan dengan menghabiskan waktu dan berkegiatan bersama anak. Misalnya, makan bersama, berbincang-bincang, mengajari atau menemani anak mengerjakan tugas sekolah, serta berekreasi. Namun, ayah seringkali hanya punya sedikit waktu, tidak punya waktu, atau bahkan tidak menyediakan waktu untuk hal tersebut, lantaran harus bekerja dan mengamini budaya patriarki yang mengakar di masyarakat.
Hasil riset yang dilakukan Dotti Sani dan Treas (2016) bertajuk “Educational Gradients in Parents’ Child-Care Time Across Countries, 1965–2012” di Journal of Marriage and Family menunjukkan waktu yang dihabiskan anak bersama ayah lebih sedikit dibandingkan bersama ibu di beberapa negara.

Di Amerika Serikat, para ibu rata-rata menghabiskan waktu untuk mengurus anaknya selama 104 menit per hari, sedangkan ayah hanya 59 menit per hari pada sekitar 1998-1999. Prancis memiliki perbedaan waktu yang lebih buruk, yakni 106 menit per hari untuk ibu berbanding 29 menit per hari untuk ayah.
Pola serupa pun terjadi di Denmark dan Norwegia, yang umumnya punya rapor baik soal kesetaraan gender dalam masyarakatnya. Meski begitu, Dotti Sani dan Treas menemukan waktu yang dihabiskan anak bersama ayah mengalami peningkatan pada tahun-tahun berikutnya, bahkan sejumlah negara mencapai 100 menit per hari.
Tidak hanya kuantitas, kualitas waktu yang dihabiskan anak dan ayah pun perlu diperhatikan. Misalnya, bagaimana sikap ayah dalam menghabiskan waktu bersama anak, lalu bagaimana ayah menunjukkan kasih sayang, kepedulian, dan sikap suportif pada anak.
Sebab, Opondo dkk. (2016) dalam artikel “Father involvement in early child-rearing and behavioural outcomes in their pre-adolescent children” di jurnal BMJ Open mengungkapkan aspek psikologis dan emosional dalam keterlibatan ayah berdampak lebih besar pada tumbuh-kembang anak.
Alhasil, menurut Allport dkk. (2018) dalam artikel “Promoting Father Involvement for Child and Family Health” di jurnal Academic Pediatrics, kehadiran dan peran ayah yang berkualitas akan meningkatkan kemampuan kognisi dan kondisi kesehatan mental anak.
Kementerian PPPA juga menyebutkan keterlibatan ayah berdampak positif terhadap anak, yakni anak akan tumbuh dewasa dengan kematangan psikologis yang sesuai dengan usia biologisnya. Ini berguna dalam penyelesaian masalah yang dihadapi anak di masa depan.
Selain itu, kebiasaan ayah menghabiskan waktu bersama anak merupakan bentuk dukungan bagi ibu, yang memang masih lebih banyak mengurus anak dan rumah tangga.
Opondo dkk. menambahkan, hal itu pun bisa mengurangi depresi yang dirasakan para ibu. Dengan begitu, kehadiran ayah secara fisik dan emosional dalam hidup anak dan keluarganya justru mewujudkan keluarga ideal itu sendiri.
Tantangan Budaya Patriarki
Secara akademis, studi yang dilakukan Young et al. (1995) dan Amato & Gilbreth (1999) menunjukkan bahwa ayah yang hangat, tegas, dan suportif dalam gaya pengasuhan yang disebut sebagai authoritative parenting, mampu menumbuhkan anak-anak yang mandiri, percaya diri, dan memiliki resiliensi (resilience).
Sayangnya, dalam banyak kasus pasca perceraian, sistem hukum dan sosial tidak memberikan ruang cukup bagi ayah untuk tetap aktif terlibat, menjadikan mereka sebagai “orang tua cadangan” semata.
Di Indonesia, konstruksi budaya patriarki turut memperkuat peran ayah sebagai pencari nafkah semata, alih-alih pengasuh aktif. Padahal, ayah berperan besar dalam menanamkan nilai keberanian, logika, dan kemandirian pada anak.
Gerakan GEMAR di Samarinda
Kesadaran akan pentingnya peran ayah mulai meningkat. Salah satunya melalui kebijakan seperti Undang-Undang No. 4 Tahun 2024 tentang Kesejahteraan Ibu dan Anak pada Fase Seribu Hari Pertama Kehidupan yang mengatur cuti ayah agar bisa lebih terlibat dalam pengasuhan sejak dini.
Meskipun demikian, tantangan budaya patriarki masih menjadi batu sandungan utama dalam mewujudkan kesetaraan peran pengasuhan.
Merespons kondisi tersebut, sebuah langkah konkret diambil di Samarinda. Mengingat ayah yang terlibat dalam pendidikan anak dan remaja dapat membantu meningkatkan motivasi dan hasil belajar, dirasa penting untuk menciptakan sebuah gerakan untuk meningkatkan peran ayah dalam mendukung pendidikan.
Wali Kota Samarinda mengeluarkan Surat Edaran Nomor 400.13/3911/100.19 tentang Gerakan Ayah Mengambil Rapor Anak ke Sekolah (GEMAR).

Isi edaran tersebut mengimbau ayah hadir langsung ke sekolah untuk mengambil rapor. Ayah yang bekerja sebagai pegawai negeri maupun swasta akan diberikan dispensasi keterlambatan kerja sesuai dengan ketentuan instansi.
Gerakan ini bertujuan untuk memperkuat peran ayah dalam pengasuhan dan pendidikan anak sejak dini. Melalui kehadiran ayah pada momen penting tersebut, diharapkan tercipta kedekatan emosional yang berpengaruh positif terhadap rasa percaya diri, kenyamanan, dan kesiapan anak dalam menjalani proses belajar.
Gerakan ini juga menjadi simbol perubahan budaya pengasuhan di Indonesia, dari yang semula terpusat pada peran ibu, menjadi lebih kolaboratif dan setara untuk membangun keluarga berkualitas dan generasi emas.
Menggeser Paradigma Pengasuhan
Kini saatnya kita menggeser paradigma bahwa ayah bukan sekadar pencari nafkah, tetapi juga mitra pengasuhan yang esensial.
Para ayah dapat mengambil langkah kecil yang bermakna dengan menjadi lebih hadir dalam kehidupan anak: mendengarkan dengan empati, menunjukkan kasih sayang secara eksplisit, terlibat dalam kegiatan harian, serta menjadi figur panutan.
Langkah ini tidak hanya akan memperkuat relasi keluarga, tetapi juga menciptakan generasi yang lebih sehat secara mental, emosional, dan sosial.
Di balik setiap anak yang tumbuh dengan cinta dan kehadiran seorang ayah, tersimpan pondasi kokoh untuk masa depan yang lebih baik. (*)
Penulis: Desy Alvionita
Editor: Amin