By admin
13.04.26

Pengangguran Tembus 7 Juta: Industri Sebut Gen Z Manja, Namun Ogah Pakai Pekerja Senior

MAHAKAMA – Di tengah perkembangan ekonomi digital, jutaan anak muda menghadapi realitas sulit saat memasuki dunia kerja. Peluang yang terbatas membuat banyak di antaranya harus berhadapan dengan penolakan berulang.

Situasi ini kerap diperparah oleh stigma terhadap Generasi Z (Gen Z) di dunia kerja. Kelompok ini sering dianggap kurang loyal, tidak tahan tekanan dan memiliki etika kerja yang lemah.

Padahal, setiap generasi memiliki karakter kerja yang terbentuk dari zamannya. Dunia kerja pun dituntut terus beradaptasi agar tetap mampu menyerap tenaga kerja baru secara produktif.

Namun, tantangan utama justru terletak pada struktur pasar kerja. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan tingkat pengangguran terbuka usia muda secara konsisten menjadi yang tertinggi.

Selain itu, Indonesia menghadapi ketidaksesuaian kompetensi antara tenaga kerja dan kebutuhan industri. BPS juga mencatat banyak anak muda bekerja tidak sesuai latar belakang pendidikan.

Kondisi ini menegaskan persoalan pengangguran muda bukan sekadar soal preferensi kerja, melainkan masalah sistemik yang telah berlangsung lama.

Dilema Otomatisasi dan Tantangan Rekrutmen Tingkat Pemula

Generasi Z masuk ke dunia kerja saat teknologi berkembang sangat cepat, terutama otomatisasi dan kecerdasan buatan. Akibatnya, banyak pekerjaan administratif dan tugas rutin entry level mulai tergantikan oleh sistem digital.

Artikel di The Conversation (10/4/2026) menunjukkan teknologi mengurangi pekerjaan rutin, tetapi justru meningkatkan kebutuhan akan keterampilan analitis. Dampaknya, peluang kerja awal bagi lulusan baru semakin sempit karena posisi entry-level berkurang.

Kondisi ini membuat perusahaan berisiko kekurangan talenta dalam jangka panjang jika terlalu cepat mengganti pekerja pemula dengan teknologi. Proses pengembangan kemampuan tetap membutuhkan tahapan dan tidak bisa instan.

Fenomena ini juga terlihat dari maraknya sindiran tentang lowongan kerja yang menuntut banyak keahlian untuk pelamar usia 20-an. Selain itu, banyak perusahaan masih menilai komitmen karyawan dari indikator lama seperti jam kerja panjang di kantor.

Keengganan Rekrutmen Pekerja Senior dan Dampak Sektor Informal

Tersendatnya regenerasi tenaga kerja berdampak pada tingginya perputaran karyawan di perusahaan. Kondisi ini diperparah oleh minimnya jalur karier dan sistem pendampingan yang jelas bagi pekerja.

Padahal, investasi pada pengembangan sumber daya manusia terbukti meningkatkan produktivitas dan daya saing jangka panjang. Namun, banyak perusahaan masih enggan merekrut atau mempertahankan pekerja senior karena stereotip kurang produktif dan tidak adaptif terhadap teknologi.

Dampaknya terlihat pada struktur ketenagakerjaan nasional. Data BPS mencatat jumlah pengangguran pada 2025 mencapai 7,46 juta jiwa, meningkat dari 6,84 juta jiwa pada 2019. Dalam periode yang sama, jumlah pekerja informal melonjak dari 80 juta menjadi 94 juta jiwa.

Lonjakan sektor informal ini menunjukkan semakin banyak tenaga kerja yang tidak terserap secara optimal di sektor formal. Padahal, pekerja informal sangat rentan terhadap kemiskinan karena minim perlindungan sosial.

Situasi ini mendorong kebutuhan mendesak bagi perusahaan untuk berinvestasi dalam pengembangan kompetensi agar kesenjangan keterampilan tidak semakin melebar. Tanpa langkah ini, tekanan terhadap pasar kerja akan terus meningkat.

Di sisi lain, kondisi ketenagakerjaan yang stagnan membuat sebagian anak muda memilih bekerja di luar negeri. Meski demikian, situasi ini juga membuka peluang untuk membangun sistem kerja yang lebih inklusif dan berkelanjutan.

Pemerintah memegang peran kunci dalam menyelaraskan pendidikan dengan kebutuhan industri melalui pelatihan ulang berbasis digital. Sinergi antara dunia usaha dan kebijakan publik menjadi penentu dalam memperkuat produktivitas nasional, termasuk melalui program magang yang lebih adaptif. (*)

Penulis: Dwi Lena Irawati
Editor: Amin

Trending