MAHAKAMA — Bagi penggemar drama China (Dracin), tayangan ini bukan sekadar menampilkan kisah percintaan “cringe”, tapi jadi cara “healing” sederhana untuk menghadapi hidup.
Data dari platform WeTV dan iQiyi Indonesia (2023) menunjukkan bahwa lebih dari 60% pengguna aktif adalah remaja berusia 13–20 tahun.
Selain itu, laporan Indonesian Entertainment Media Study menyatakan bahwa rata-rata remaja Indonesia menonton 3–5 episode drama per hari, dengan durasi setiap episode sekitar 45 menit. Data ini mengungkapkan bahwa drama China memiliki pengaruh cukup besar terhadap kehidupan sehari-hari anak muda.
Dalam sebuah wawancara di Youtube CXOMedia, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengaku gemar menonton drama China sebagai pelepas stres.
“Kalau stres, dugaan saya ya, saya itu nonton drama China yang pendek-pendek itu. Menghibur, kadang-kadang ceritanya mirip-mirip, tapi tonton aja udah,” ucap Purbaya.
Kebiasaan sederhana ini justru viral dan mendapat banyak perhatian, sebab tidak sedikit orang yang ternyata memiliki cara serupa untuk melepas stres. Fenomena ini memperlihatkan betapa drama China (C-Drama) dengan alur cerita ringan dan mudah ditebak bisa menjadi hiburan sekaligus pelepas lelah setelah aktivitas padat.
Belakangan ini masyarakat Indonesia memang gemar-gemarnya menonton serial drama, baik drama China (Dracin) atau drama Korea (Drakor). Secara umum, Drakor memiliki 16 hingga 20 episode. Sementara, Dracin memiliki lebih banyak episode sekitar 25 hingga 50 episode.
Namun, seperti yang dikatakan Purbaya, Dracin memiliki durasi tayang lebih pendek yakni sekitar 30-45 menit, daripada Drakor yang berdurasi 60-90 menit.
Sama seperti dengan Purbaya, Tia (27), perempuan asal Penajam ini mengungkap sebetulnya masih sering gonta-ganti drama, dari Negeri Ginseng ke Negeri Tirai Bambu. Tergantung mood, kata dia, sebab keduanya memiliki kisah unik masing-masing.
Tia tak menampik banyak orang yang menganggap kisah di Dracin terlalu cringe atau “menye-menye”, tapi bagi seorang budak korporat seperti dia, Dracin masuk daftar alasannya agar bahagia menjalani hidup.
“Nonton karena ketularan adikku. Awalnya ngerasa cringe lihat cowok konglomerat lagi deketin cewek yang tampil sederhana, padahal konglomerat juga. Tapi kok lama-lama seru diikutin, karena dramanya lebih santai,” ujar Tia.
Selama setahun ini, Tia sudah menonton sekitar 15 judul Dracin yang berbeda. Misalnya, “Eternal Love“, “The Little Red Matchmaker”, hingga “Go Ahead”. Judul terakhir yang ia sebutkan itu jadi salah satu Dracin favoritnya.

“Go Ahead” bercerita tentang kisah tiga remaja Li Jian Jian (Seven Tan), Ling Xiao (Song Weilong), dan He Zi Qiu (Steven Zhan) yang bersahabat dan saling menganggap satu sama lain sebagai keluarga.
Meski tak memiliki hubungan darah, ketiganya mempunyai kesamaan yang membuat ikatan mereka begitu erat. Jian Jian, Ling Xiao, dan Zi Qiu sama-sama datang dari keluarga yang bermasalah. Ketika bersama, mereka bisa melupakan segala permasalahan dan menemukan cinta yang tak didapat di rumah.
“Aku ngerasa sama dengan yang terjadi pada diriku sendiri. Aku punya sahabat yang ku anggap seperti saudara. Keluargaku hancur, jadi aku sering berbagi cerita dengan sahabatku” ujar Tia.
Kisah yang disajikan terasa dekat dengan realitas kehidupan, terutama bagi mereka yang tumbuh dalam keluarga yang tidak utuh. Banyak penonton merasa terwakili oleh konflik dan perasaan yang dialami para tokohnya.
Selain menguras emosi, Go Ahead juga menyelipkan pesan tentang pengampunan dan penerimaan. Bagi Tia, Drama ini mengajak penonton memahami bahwa tidak semua orang tua mampu menjadi sosok ideal, namun luka masa lalu tetap perlu dihadapi untuk bisa melangkah ke depan.
“Dari Dracin aku merasa mendapat ‘pelukan’ hangat, agar lebih kuat dan bisa menerima masa laluku,” kata Tia.
Berbeda dengan Tia yang ingin menghadapi masa lalunya dengan menonton Dracin, Yisar (26) merasa seolah bisa kabur dari kenyataan hidup meski tak berlangsung lama. Namun, dari Dracin itulah ia bisa menghadapi kenyataan kembali.
Selama satu tahun terakhir, Yisar berhasil menghabiskan lebih dari 20 judul Dracin yang hampir seluruh ceritanya berakhir bahagia. Di mana tokoh utama pasti mendapatkan sesuatu yang dia inginkan asal mau bekerja keras. Baik itu meraih cita-cita, pujaan hati, hingga harga diri untuk diakui.
“Pokoknya yang baik akan selalu menang dan yang jahat akan selalu mendapat konsekuensi atau akibat dari perbuatannya. Masalahnya, dunia hari-hari ini nggak bekerja demikian. Jadi jangan halu deh,” kata Yisar.
Selain itu, menurut Yisar, alur cerita Dracin juga mudah ditebak sehingga membuat mereka merasa bahagia dibanding Drakor yang terkadang punya plot twist atau misteri.
Menurut riset dalam jurnal Media Psychology, menonton film bukan sekadar hiburan, tetapi juga bisa menjadi media rekreasi psikologis.
Film berperan sebagai sarana terapi yang membantu seseorang melihat situasi dari sudut pandang baru, sekaligus memberikan cara alternatif untuk menghadapi tekanan hidup.
Tidak heran jika kebiasaan sederhana seperti menonton serial drama dapat berdampak positif pada kesehatan mental. Seperti cara Tia mengobati luka masa lalunya dan Yisar yang belajar menerima kenyataan hidup.
Popularitas short drama China terlebihnya dikalangan muda memiliki beberapa faktor.
Berdasarkan hasil penelitian Jurnal Ilmu Pengetahuan Sosial Universitas Pendidikan Indonesia yang bertajuk “Daya Tarik Short Drama China: Fenomena Konsumsi Cepat dalam Perspektif Psikologi Sosial” (2025), salah satu faktor utama nya adalah alur yang cepat dan langsung ke inti konflik, berbeda dengan film atau serial televisi yang memiliki tahap-tahap pengenalan tokoh atau latar.
Hal ini sejalan dengan kebutuhan dan preferensi pengguna digital yang cenderung mencari hiburan singkat dan tidak memakan waktu yang lama dengan kepuasan instan.
Fenomena ini sejalan dengan konsep instan gratification yang menurut George Ainslie dalam artikelnya yang berjudul “Specious Reward: A Behavioral Theory of Impulsiveness and Impulse Control” yang diterbitkan dalam Psychological Bulletin pada tahun 1975, instant gratification berkaitan erat dengan perilaku impulsif, di mana individu lebih memilih hadiah yang lebih kecil namun segera, dibandingkan dengan hadiah yang lebih besar tetapi tertunda.
Jika dikaitkan dengan perkataan Ainslie dalam psikologi sosial, instant gratification ini menunjukkan bahwa individu lebih memilih menonton drama China dengan kualitas atau alur yang lebih rendah dan murah tetapi singkat daripada menonton serial televisi atau film yang memiliki kualitas lebih baik tetapi berdurasi lebih panjang.
Berdasarkan analisis dan temuan dari penelitian ini, drama China memiliki daya tarik kuat yang berasal dari formatnya yang singkat namun padat secara emosional.
Dalam perspektif psikologi sosial, fenomena ini menunjukkan bagaimana kebutuhan akan kepuasan instan, konformitas terhadap tren media sosial, serta pencarian aktualisasi diri menjadi faktor utama dalam pola konsumsi hiburan modern.
Konsumsi cepat ini memberi keuntungan dalam hal efisiensi dan kedekatan emosional, namun juga mengindikasikan adanya potensi perubahan dalam cara individu memproses informasi dan membangun koneksi sosial melalui media digital. (*)
Penulis: Desy Alvionita
Editor: Amin