MAHAKAMA — Momen menerima gaji pertama seringkali dianggap sebagai gerbang menuju kedewasaan dan kebebasan finansial. Namun, di balik euforia memegang uang hasil keringat sendiri, terselip realita pahit yang membuat dada sesak.
Bagi sebagian anak muda di Kalimantan Timur (Kaltim), gaji pertama bukan hanya soal angka, melainkan tentang pertarungan antara rasa syukur, lega, dan getirnya biaya hidup.
Kisah ini dialami oleh Bunga (22), seorang mahasiswi tingkat akhir jurusan Manajemen di Universitas Mulawarman (Unmul). Di tengah kesibukannya menyusun skripsi dan menunggu jadwal wisuda, Bunga memutuskan untuk tidak berdiam diri.
Ia bekerja sebagai penjaga toko kosmetik di Jalan Pramuka, Samarinda. Setelah sebulan bekerja penuh waktu di sela-sela revisi skripsi, momen yang ditunggu itu tiba. Bunga menerima gaji pertamanya sebesar Rp1,5 juta.
Ada senyum yang merekah, namun tak lama kemudian, senyum itu berubah menjadi helaan napas panjang. Nominal tersebut, baginya, terasa sangat “mepet” untuk hidup di ibu kota Kaltim.
“Rp1,5 juta itu kalau dipisah-pisah, cuma cukup buat bayar uang sewa kos, ongkos bensin, sama keperluan sehari-hari. Buat makan enak atau nabung, rasanya harus mikir seribu kali. Jadi ya, gajinya cuma numpang lewat saja,” ujar Bunga.
Beban Anak Laki-Laki Pertama
Di tempat berbeda, rasa haru yang lebih dalam dirasakan oleh Adi (26). Bagi Adi, gaji pertama adalah simbol kembalinya harga diri yang sempat hilang. Lulus kuliah tidak serta merta membuatnya sukses; ia harus menelan pil pahit menjadi pengangguran selama tujuh bulan.
Selama masa itu, Adi hidup dalam bayang-bayang rasa bersalah. Sebagai anak laki-laki pertama, ia merasa gagal karena belum mampu menopang ekonomi keluarga. Sebaliknya, ia justru masih menadahkan tangan kepada orang tuanya untuk kebutuhan sehari-hari.
Nasib baik akhirnya berpihak. Adi diterima bekerja di sebuah kantor advokat di wilayah Kutai Kartanegara. Meski gajinya sebesar Rp3 juta—angka yang masih di bawah Upah Minimum Regional (UMR)—rasa lega yang ia rasakan.
“Waktu terima gaji itu, rasanya beban berat di pundak ini jatuh semua. Selama menganggur dan kuliah, saya full mengandalkan orang tua. Minta uang rokok atau bensin saja malunya minta ampun, tapi mau bagaimana lagi, keadaannya memaksa begitu,” ungkap Adi.
Adi mengakui bahwa nominal tersebut mungkin kecil bagi sebagian orang, namun baginya, itu adalah langkah awal penebusan rasa bersalahnya.
“Mungkin belum UMR, tapi saya sangat bersyukur. Setidaknya saya tidak lagi merasa gagal sebagai anak laki-laki pertama. Saya sudah bisa berdiri sendiri, walau pelan-pelan,” tuturnya.
Amplop Uang Penebus Masa Lalu
Cerita tak kalah emosional datang dari Andri (24), pemuda asal Paser, Kaltim. Jalan hidup Andri tak mulus. Ia harus mengubur mimpinya kuliah karena keterbatasan biaya setelah lulus SMK. Kondisi ekonomi keluarga memaksanya langsung terjun ke dunia kerja yang keras.
Andri bekerja di sebuah perusahaan kelapa sawit. Berbeda dengan pekerja kantoran yang menerima notifikasi transfer bank, Andri menerima gaji pertamanya secara tunai. Sebuah amplop berisi uang tunai sebesar Rp2,5 juta diserahkan ke tangannya.
Saat membuka amplop itu dan melihat lembaran-lembaran uang berwarna merah, matanya berkaca-kaca. Uang itu bukan sekadar alat tukar, melainkan bukti perjuangannya menaklukkan hidup.
“Waktu buka amplop itu, saya terharu. Ini uang pertama yang benar-benar milik saya, hasil keringat di kebun sawit,” kata Andri.
Bagi Andri, gaji pertama itu adalah sarana untuk “menyembuhkan” masa kecilnya yang serba kekurangan.
“Uangnya langsung saya pakai buat belikan makanan enak dan pakaian untuk orang tua dan adik. Hal-hal yang dulu tak sempat kami rasakan, sekarang bisa saya wujudkan,” pungkasnya tersenyum haru.
Antara Euforia dan Realita Finansial
Menanggapi kondisi ini, Sartika Wulandari, CFP, seorang Konsultan Perencana Keuangan di Samarinda, menilai bahwa perasaan campur aduk saat menerima gaji pertama adalah hal yang sangat manusiawi dan valid.
Menurutnya, gaji pertama seringkali menjadi tamparan realitas bagi para pekerja pemula.
Sartika menjelaskan bahwa ada transisi psikologis yang berat dari mentalitas ‘diberi uang saku’ menjadi ‘mengelola uang sendiri’.
“Ini merepresentasikan wajah mayoritas Gen Z di daerah. Ada euforia kemandirian, tapi langsung dihantam inflasi dan biaya hidup. Wajar jika rasanya ‘nyesek’, karena ekspektasi kita gaji pertama itu bisa langsung mengubah hidup, padahal nyatanya baru cukup untuk bertahan hidup,” jelas Sartika.
Terkait keputusan Andri yang menghabiskan gaji pertamanya untuk menebus masa lalu dan membahagiakan keluarga, Sartika tidak melarang hal tersebut. Dalam psikologi keuangan, hal itu disebut sebagai emotional spending, asalkan tidak menjadi kebiasaan permanen.
“Untuk gaji pertama, silakan dinikmati euforianya. Digunakan untuk self-reward atau berbakti pada orang tua itu boleh banget, itu bentuk apresiasi diri. Tapi, lampu kuning harus menyala di gaji bulan berikutnya,” imbaunya.
Sartika memberikan saran bagi anak muda yang bergaji pas-pasan atau di bawah UMR.
1. Jangan Terobsesi Investasi.
Jika gaji hanya cukup untuk makan dan kos, jangan memaksakan diri menabung saham atau kripto. Fokuslah pada cash flow agar tidak berutang untuk kebutuhan hidup.
2. Gaji Kecil sebagai “Uang Belajar”
Anggap gaji yang belum memadai sebagai biaya pendidikan di dunia kerja. Gunakan pengalaman di tempat kerja tersebut sebagai batu loncatan untuk meningkatkan value diri agar bisa negosiasi gaji lebih tinggi di masa depan.
3. Rumus 50-30-20.
Atur gaji dengan rumus 50% needs, 30% lifestyle, dan 20% saving. Jika tidak bisa menabung 20%, mulailah dari nominal terkecil yang tidak memberatkan, sekadar untuk membangun kebiasaan, bukan mengejar nominal.
Keadaan yang dialami Bunga, Adi, dan Andri memotret wajah asli tenaga kerja muda hari ini. Gaji pertama seringkali menghadirkan paradoks; di satu sisi menjadi simbol kemandirian dan kebanggaan, namun di sisi lain menjadi “tamparan” realitas akan tingginya biaya hidup dan upah yang belum mencukupi.
Bagi mereka, nilai rupiah bukan sekadar angka statistik, melainkan representasi dari harga diri, penebusan rasa bersalah kepada orang tua, hingga upaya membasuh luka kemiskinan masa lalu.
Di tengah biaya hidup yang tinggi dan lapangan kerja yang kompetitif, gaji pertama seringkali tak bersisa untuk tabungan masa depan, melainkan habis untuk menambal kebutuhan dasar atau memulihkan rasa percaya diri yang sempat hilang. Walau “merdeka finansial” masih jauh, namun setidaknya mereka telah mengambil langkah untuk berusaha mandiri.
Meski terkadang nominalnya membuat sesak, gaji pertama tetap menjadi tonggak sejarah yang mengajarkan arti bertahan hidup yang sesungguhnya. (*)
Penulis: Desy Alvionita
Editor: Amin