By admin
01.11.25

Detektif Budaya Kalimantan: Dua Versi “Putri Buih” yang Saling Mencerminkan

MAHAKAMA – Kalimantan tidak hanya kaya dengan hutan dan sungai, tetapi juga menyimpan kisah ganda tentang dua putri ajaib yang lahir dari buih air. Namanya mirip, asalnya serupa, tetapi takdir mereka berbeda arah. Satu dikenal sebagai Putri Junjung Buyah dari Kalimantan Timur, dan satu lagi Putri Junjung Buih dari Kalimantan Selatan.

Kajian intertekstual yang dilakukan Derri Ris Riana dari Balai Bahasa Kalimantan Selatan menelusuri keterkaitan antara dua kisah tersebut. Dalam tulisannya berjudul Perbandingan Unsur Intrinsik dalam Cerita Rakyat “Putri Junjung Buyah” di Kalimantan Timur dan “Putri Junjung Buih” di Kalimantan Selatan: Sebuah Kajian Intertekstual (jurnal Multilingual, Vol. XV, No. 2, 2016), Derri menemukan bahwa salah satu kisah menjadi cetak biru bagi kisah lainnya. Hal ini menggambarkan bagaimana legenda lokal bertransformasi mengikuti arus budaya.

Dua Putri, Dua Dunia

Foto: Ilustrasi Putri Junjung Buyah (kanan) dan Putri Junjung Buih (kiri)

Putri Junjung Buyah (Kalimantan Timur)
Cerita ini bermula dari sepasang suami istri tua di Hulu Dusun yang mendambakan keturunan. Setelah merawat seekor naga raksasa, doa mereka terkabul. Dari buih Sungai Mahakam lahirlah bayi bercahaya yang dijunjung di atas gong oleh Naga dan Lembu Suana. Bayi itu kelak menjadi Putri Junjung Buyah, yang kemudian menikah dengan Aji Batara Agung Dewa Sakti, leluhur para pemimpin Kutai.

Putri Junjung Buih (Kalimantan Selatan)
Berbeda dengan kisah pertama, versi ini berkisar pada Kerajaan Nagara Dipa yang mencari raja sejati. Lambung Mangkurat mendapat petunjuk gaib bahwa raja itu akan muncul dari pusaran air. Benar saja, seorang putri dewasa muncul dari buih sungai. Ia menjadi Ratu Nagara Dipa dan menikah dengan Radin Putra dari Majapahit setelah melewati ujian kesaktian.

Benang Merah yang Mengikat

Penelitian menunjukkan empat kesamaan kunci yang merupakan struktur tulang punggung dari kedua kisah ini. Kesamaan ini bukan kebetulan, melainkan memiliki motivasi dan tujuan naratif yang kuat dalam kosmologi masyarakat Kalimantan:

Pernikahan Kerajaan: Kisah selalu diakhiri dengan pernikahan sang putri dengan pangeran (dewa atau Majapahit). Tujuan utamanya adalah stabilisasi politik. Pernikahan ini menjadi simbol penyatuan kekuatan lokal dengan kekuatan eksternal yang besar, menciptakan dinasti yang kokoh dan tidak terbantahkan.

Latar Sungai & Kerajaan Baru: Sungai, sebagai urat nadi kehidupan di Kalimantan, dijadikan latar utama. Tujuannya adalah menegaskan bahwa kekuasaan (kerajaan baru) harus terlahir dan diberkati langsung oleh alam. Ini melegitimasi dinasti tersebut berdasarkan ikatan kosmologis dengan lingkungan.

Kelahiran Ajaib dari Buih: Putri muncul dari buih air, yang menunjukkan asal-usul supranatural. Motivasinya adalah menarik garis pemisah antara penguasa biasa dan penguasa yang dianugerahi ilahi. Kelahiran ini memperkuat otoritas putri sebagai sosok yang dipilih oleh alam, bukan dari garis keturunan bangsawan biasa.

Perjuangan Menuju Perubahan: Kedua kisah melibatkan perjuangan keras (bertapa selama dua tahun atau mengurus naga ajaib). Tujuannya adalah menggarisbawahi bahwa kekuasaan suci itu diperoleh melalui laku dan pengorbanan yang besar, membenarkan mengapa status quo harus berubah.

Namun, hasil kajian mengungkap satu fakta penting. Putri Junjung Buih dari Kalimantan Selatan muncul lebih dulu dan menjadi hipogram, atau teks acuan yang menginspirasi versi Kalimantan Timur. Sementara Putri Junjung Buyah adalah hasil transformasi budaya yang disesuaikan dengan konteks lokal.

Saat Mitos Beradaptasi

Perubahan dari Putri Junjung Buih ke Putri Junjung Buyah menunjukkan kelenturan tradisi lisan di Kalimantan. Versi selatan menekankan politik dan legitimasi kerajaan, sementara versi timur menyoroti mukjizat dan asal-usul keturunan. Pergeseran ini mencerminkan cara masyarakat menyesuaikan kisah besar agar selaras dengan nilai dan identitas daerahnya.

Legenda ini bukan sekadar cerita lama, tetapi arsip hidup tentang bagaimana masyarakat Kalimantan menulis ulang sejarah melalui kata, bukan tinta.(*)

Penulis: Dwi Lena Irawati
Editor: Amin

Trending