DI ANTARA kanopi hijau lebat hutan hujan Kalimantan, muncul satu bayangan putih yang mencolok. Ia adalah Alba, primata unik yang membawa keajaiban genetik sekaligus beban perlindungan.
Dunia dihebohkan oleh penemuan orangutan berbulu putih pucat dengan mata kebiruan pada April 2017. Primata yang kini kita kenal dengan nama Alba ini menarik perhatian global karena keunikan fisiknya. Alba membawa hasil dari kelainan genetik yang sangat langka. Dikutip dari Savetheorangutan, Alba merupakan orangutan albino pertama yang dunia ketahui.
Penyelamatan dan Masa Rehabilitasi Intensif
Dilansir CNN Indonesia (2/10/2025), Pada 29 April 2017, Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Tengah bersama kepolisian Sektor Kapuas Hulu dan Yayasan Borneo Orangutan Survival Foundation (BOS) menyelamatkan Alba. Mereka menemukan Alba di Desa Tanggirang, Kecamatan Kapuas Hulu, Kabupaten Kapuas, Kalimantan Tengah.
Awalnya, tim mendapatkan informasi bahwa seseorang mengurung dan menjadikan seekor orangutan albino sebagai peliharaan. Pemilik kandang menjelaskan bahwa ia menemukan orangutan tersebut di area hutan yang telah mereka tebang di dekat sana. Alba berusia sekitar 5 tahun saat tim menyelamatkannya.
Alba kemudian menerima perawatan dokter hewan. Tim memantau Alba secara ketat untuk menentukan apakah ia mampu bertahan hidup secara mandiri jika dilepaskan kembali ke alam liar. Alba menghabiskan masa rehabilitasi selama dua tahun di Nyaru Menteng. Setelahnya, Alba kembali ke habitat asilnya di Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya (TNBBBR) pada 18 Desember 2018.
Ancaman Nyata dari Keunikan Fisik
Penelitian mendalam terhadap Alba mengungkapkan bahwa ia mengalami gangguan penglihatan dan pendengaran. Fakta ini dapat mengancam kelangsungan hidupnya di hutan hujan secara signifikan. Selain itu, bulu putihnya yang unik memudahkan orang mengenalinya. Kondisi ini menjadikannya target perburuan liar dan perdagangan ilegal.
Kawasan hutan hujan yang BOS Foundation kelola lebih terlindungi dan terawasi. Namun, Alba tetap menuntut perlindungan dan pemantauan yang lebih intensif karena keunikan fisiknya.
Aktivitas Positif di Alam Liar
Meskipun memiliki keterbatasan fisik, Alba menunjukkan aktivitas yang cukup positif sejak tim melepasnya kembali ke alam liar. Pada akhir 2019, setahun setelah pelepasannya, Alba rata-rata menggunakan 56,5 persen dari jam aktifnya untuk makan. Ia bergerak di pepohonan selama 27,2 persen waktunya. Sisanya, 13,8 persen ia gunakan untuk istirahat dan 2,2 persen untuk perilaku lain seperti bersarang.
Kepala BTNBBBR Agung Nugroho menyampaikan kabar baik pada 2020. Ia melaporkan, setiap kali tim mengamati Alba, ia tampak menjelajah jauh dan makan banyak pakan alami. Alba juga bersosialisasi dengan orangutan lain yang lebih dulu tim lepasliarkan. Semua berharap Alba terus bertahan hidup liar di hutan, sesuai kodratnya sebagai satwa liar.
Kisah Alba menegaskan bahwa upaya konservasi tidak hanya melindungi spesies secara umum. Ia juga harus melindungi setiap individu satwa liar, terutama yang memiliki kelemahan genetik. Melestarikan Alba berarti menjaga keanekaragaman hayati Indonesia yang tak ternilai harganya.(*)
Penulis: Dwi Lena Irawati
Editor: Amin